logo
Ingat Latihan Ingat Pak Margolang
image

Pengembangan Masyarakat (BAKAT)

0761 8442 843


Website Resmi Yayasan Bakat

Infaq/Sumbangan/Amal ke :
No. Rek. 104 613 5438
an. Nazaruddin Margolang
BRI Syariah

Tulisan/Artikel ke :
nmargolang@yahoo.com
Buat Website Anda !!! : Hanya Rp. 1000,-/hari

Cek Nama Domain ?

Komentar Pengunjung
image

Polling :

 

WEB MATIC FRIEND

FASILITATOR PEM 

AHLI TANI

IKA SPMA RIAU

RUMAH AGRIBISNIS

TANINDO RIAU

Antara Inkubator Bisnis, Sharing Factory Dan Teaching Industry

image

Oleh : Ir. Asikin Chalifah. Rumah Literasi (RULIT) WASKITA BREBES

Dalam kesempatan melakukan studi banding di Taiwan yg difasilitasi oleh Kantor Dagang dan Ekonomi Taipei (TETO) beberapa tahun lalu, ada dua kegiatan yg menarik dari serangkaian kegiatan yg telah di jadwalkan selama sekitar satu bulan yakni melihat kegiatan inkubator agribisnis di salah satu perguruan tinggi pertanian dan kegiatan industri minuman beralkohol yg berbahan baku dari beras. Bisa dimaklumi kegiatan-kegiatan yg dikunjungi selama di Taiwan adalah dalam ruang lingkup pertanian karena ketika itu jalinan kerjasama antara TETO dengan beberapa daerah di Indonesia salah satunya adalah di bidang pertanian dari kegiatan di hulu hingga di hilir. Taiwan merupakan salah satu negara di ASIA yg cukup maju di sektor pangan dan pertanian, termasuk dalam penggunaan teknologi informasi untuk mendukung kegiatan pertanian presisi (smart farming). Satu hal yg barangkali bisa dijadikan contoh di sektor pangan dan pertanian adalah praktek pendampingan/pengawalan pada  kelembagaan petani oleh perorangan/kelembagaan yg memiliki latar belakang hukum agar petani mendapatkan keuntungan yg memadai dari kegiataan kerjasama/kemitraan usaha dengan para pihak terkait (ritel)  sesuai dengan prinsip-prinsip dalam kerjasama/kemitraan usaha yakni kesetaraan, keadilan, saling ketergantungan dan menguntungkan satu dengan lainnya. Selain kegiatan pelatihan dan permagangan, TETO juga memberikan kesempatan untuk mengambil program S2 pertanian di Taichung University Taiwan.

Inkubator agribisnis atau inkubator bisnis pada umumnya, secara sederhana dapat dimaknai sebagai kegiatan menginkubasi atau mematangkan pelaku usaha yg biasa disebut dengan tenant melalui kegiatan peningkatan kemampuan, alih teknologi dan biasanya disertai dengan dukungan penguatan modal usaha. Pelaku usaha, terlebih pelaku usaha rintisan (start up), seringkali  menghadapi berbagai persoalan seperti keterbatasan terhadap akses teknologi, modal usaha dan pemasaran.  Melalui kegiatan inkubasi dalam lingkup kegiatan pelatihan, alih teknogi dan fasilitasi pembiayaan, pelaku usaha dapat meningkatkan kapasitas produksi, mutu dan keterjangkauan terhadap pasar, baik pasar domestik maupun global. Dalam kegiatan inkubator bisnis seringkali dicontohkan tentang usaha brem dari pelaku usaha di berbagai daerah di Indonesia yg setelah mengikuti kegiatan inkubasi dapat meningkatkan mutu dan kemasan dengan tampilan yg lebih menarik sehingga dapat memperluas penetrasi pasar di dalam negeri dan peluang pasar di luar negeri.  Berbicara soal inkubator bisnis, siapapun dapat mendirikan unit kegiatan inkubator bisnis dengan kondisi sarana-prasarana yg terbatas sekalipun, yg terpenting memiliki data dan lengkap, menguasai teknologi informasi serta akses maupun hubungan baik dengan perusahaan-perusahan yg layak untuk mengikubasi pelaku usaha.

Selain inkubator bisnis, kegiatan yg lekat dengan pelaku usaha terutama UMKM adalah kegiatan sharing factory. Saat ini Kementerian Koperasi dan UKM RI dengan dukungan dari berbagai asosiasi UMKM dan para pihak terkait tengah mematangkan konsepsi tentang sharing factory atau open factory atau sering di sebut dengan rumah produksi bersama untuk memajukan UMKM di Indonesia. Konsepsi sharing factory ini berangkat dari pemikiran agar usaha yg dilakukan oleh UMKM bisa lebih efektif, efisien dan berdaya saing sehingga dapat meningkatkan kenaikan kelas usaha dari mikro ke kecil dan kecil ke menengah serta sekaligus dapat mendorong upaya peningkatan ekspor. Dengan demikian peran UMKM dalam memberikan kontribusi pada peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional yg tinggi menjadi semakin nyata. Untuk itu, melalui rumah produksi bersama dalam suatu kawasan usaha atau cluster, UMKM akan ditingkatkan kemampuan SDM-nya dibidang tata kelola usaha agar lebih efektif dan efisien serta dihasilkan produk-produk yg memenuhi standard mutu dengan cara mengikutsertakan (nebeng) pada perusaahaan-perusahan besar swasta dan milik pemerintah (BUMN) yg menguasai teknologi maju serta memiliki alat dan mesin produksi yg lebih canggih (moderen). Dengan penguatan kemampuan SDM, alih teknologi dan fasilitasi sarana-prasarana yg memadai, diharapkan kelimpahruahan/keunggulan komperatif yg dimiliki oleh UMKM dapat diubah menjadi keunggulan kompetitif sehingga produk-produk UMKM memiliki nilai tambah dan daya saing yg tinggi.
 
Meskipun dalam satu hal memiliki keterkaitan dengan inkubator bisnis dan sharing factory, penggunaan istilah teaching industry lebih dekat atau berhubungan erat dengan dunia pendidikan terutama terkait dengan keberadaan sekolah vokasi pada perguruan tinggi. Kegiatan teaching industry secara umum terutama dalam kegiatan pembelajaran lebih menekankan pada  penguasan praktikal (phisycal skill) yg lebih besar ketimbang teoritikal (intelectual skill) sehingga lulusan dari perguruan tinggi vokasi siap pakai di dunia usaha dan industri. Oleh karena itu disain kurikulum pendidikan pada sekolah vokasi di perguruan tinggi disusun dengan memperhatikan kebutuhan dan keterlibatan dari dunia usaha dan industri atau sering disebut dengan istilah DUDI.

Terkait dengan rancangan kurikulum pendidikan sekolah vokasi di perguruan tinggi, pelajaran penting didapatkan ketika beberapa tahun lalu diberikan kesempatan untuk studi banding tentang sistem dan usaha agribisnis di beberapa perguruan tinggi pertanian di Australia, salah satunya adalah di Dalton College selain melakukan peninjauan di unit-unit pendidikan vokasi dan pelatihan pertanian semacam  TAFE. Di Dalton College dalam penyusunan kurikulum pendidikan untuk sekolah vokasi ternyata sepenuhnya menghadirkan dan melibatkan dunia usaha dan industri, termasuk pemberian kesempatan pada mahasiswa untuk melakukan semacam praktek kerja nyata di berbagai perusahaan di setiap negara bagian di Australia. Saat ini, kegiatan teaching industry tidak hanya dilakukan di sekolah-sekolah vokasi di perguruan tinggi saja, akan tetapi beberapa perusahan terutama yg bergerak sektor pangan dan pertanian telah membangun teaching industry dalam rangka hilirisasi terhadap komoditas-komoditas pertanian unggulan untuk meningkatkan nilai tambah, daya saing dan memperluas ceruk pasar di dalam negeri dan luar negeri.

Dengan demikian benang merah antara kegiatan inkubator bisnis, sharing factory dan teaching industry adalah bagaimana mewujudkan SDM ahli, produk bermutu yg berorientasi pasar serta efektifitas dan efisiensi dalam melakukan tata kelola usaha di berbagai sektoral.

KASONGAN, Bantul, 23 Februari 2020

Asikin CHALIFAH
Rumah Literasi (RULIT) WASKITA BREBES

Mon, 24 Feb 2020 @05:54


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 Yayasan BAKAT (Pengembangan Masyarakat) · All Rights Reserved