logo
Ingat Latihan Ingat Pak Margolang
image

Pengembangan Masyarakat (BAKAT)

082382638871


Website Resmi Yayasan Bakat

Infaq/Sumbangan/Amal ke :
No. Rek. 104 613 5438
an. Nazaruddin Margolang
BSI - Bank Syariah Indonesia

Tulisan/Artikel ke :
nmargolang@yahoo.com
Buat Website Anda !!! : Hanya Rp. 1000,-/hari

Cek Nama Domain ?

google.com, pub-3763421887377259, DIRECT, f08c47fec0942fa0

image

Polling :

 

WEB MATIC FRIEND

FASILITATOR PEM 

AHLI TANI

IKA SPMA RIAU

RUMAH AGRIBISNIS

TANINDO RIAU

google.com, pub-3763421887377259, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Kategori Tulisan

Terima Kasih Untuk Kinerja PETANI Indonesia - Asikin Chalifah

image

Badan Pusat Statistik (BPS) RI telah merilis produksi padi tahun 2020 beberapa waktu yang lalu. Produksi padi nasional tahun 2020 tercatat sebanyak 54,65 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Terdapat kenaikan sebanyak 45,17 ribu ton atau 0.08 persen jika dibandingkan dengan produksi padi tahun 2019 yang sebanyak 54,60 juta ton GKG. Produksi padi sebanyak 54,65 juta ton GKG adalah setara dengan 31,33 juta ton beras. Naik 21,46 ribu ton beras atau 0,07 persen jika dibandingkan dengan tahun 2019 yang sebanyak 31,31 juta ton beras. Sebagian besar produksi padi di Indonesia dihasilkan oleh daerah-daerah sentra padi di Pulau Jawa. Jumlah gabah atau beras sebanyak itu tersimpan diantaranya di gudang BULOG sebagai cadangan pangan (beras) pemerintah, di petani, di pedagang, di tempat penggilingan padi, dan di masyarakat. Dengan konsumsi beras (nasi) perkapita pertahun sebesar 111,58 kilogram dan jumlah penduduk sebanyak 270,20 juta orang, Indonesia pada tahun 2020 mengalami surplus beras sekitar 1,18 juta ton. Prediksi krisis pangan di saat terjadi pandemi COVID-19 sebagaimana diingatkan oleh Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) dapat dilewati dengan baik oleh Indonesia. Meskipun demikian, tetap perlu kehati-hatian atau kewaspadaan karena dari data Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) tahun 2020 dari indikator ketersediaan, keterjangkauan dan pemanfaatan pangan, masih terdapat daerah-daerah di Indonesia yang masuk dalam katagori rentan rawan pangan baik rawan pangan transien maupun kronis yang karena sesuatu dan lain hal dapat saja mengarah pada terjadinya krisis pangan dan kelaparan. Perlu diantisipasi melalui penguatan kebijakan dan program mitigasi terhadap bencana alam dan non alam, fenomena perubahan iklim global dan kejadian lain
(kerusuhan dan konflik sosial) untuk mengurangi dampak kemungkinan terjadinya krisis pangan terutama pada daerah-daerah yang tidak tahan pangan. Pengembangan pangan lokal atau pangan alternatip non beras dan terigu adalah salah satu pilihan, mengingat Indonesia memiliki demikian banyak potensi dan keragaman sumber daya pangan lokal atau pangan alternatip non beras dan terigu, baik dari biji-bijian, umbi-umbian maupun bagian lain dari tanaman. Sebut saja tanaman sagu sebagai food forestry. Dengan  hamparan seluas 5,4 juta hektar (95 persen berada di wilayah Provinsi Papua dan Papua Barat), Indonesia memiliki tanaman sagu terluas di dunia. Indonesia merupakan lumbung pangan dunia dari tanaman sagu.

Kenaikan produksi padi dan komoditas pertanian lain pada tahun 2020 patut disyukuri dan sudah selayaknya disampaikan terima kasih pada petani dan pelaku usaha pertanian di tengah-tengah ruang gerak yang terbatas karena dampak pandemi COVID-19 sebagai bencana nasional non alam. Bagi petani, yang diperlukan adalah harga jual produk-produk pertanian yang mendatangkan keuntungan yang layak atau memadai, serta sekaligus terjangkau oleh masyarakat konsumen. Penghargaan yang tinggi juga perlu diberikan pada kerja keras pemerintah dalam hal ini adalah Kementerian Pertanian Ri sebagai regulator dan fasilitator melalui penguatan kebijakan dan program intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian seperti model pembangunan kawasan pertanian berbasis korporasi petani dan lumbung pangan (food estate) singkong dan padi.

Untuk tahun 2021, diketahui potensi produksi padi dalam bentuk beras dari bulan Januari hingga April 2021 adalah sebanyak 14,54 juta ton, terdapat kenaikan sebesar 3,08 juta ton atau 26,84 persen jika dibandingkan dengan produksi beras pada periode yang sama tahun lalu sebesar 11,46 juta ton. Peningkatan produksi beras nasional harus terus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan penduduk Indinesia melalui penguatan kebijakan dan program intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian dengan melakukan kegiatan pengendalian alih fungsi lahan, perbaikan degradasi kualitas lahan dan air, peyediaan sarana produksi pertanian terutama pupuk dan benih bermutu dari varietas unggul yang memenuhi prinsip 6 (enam) tepat, penguatan akses modal usaha, teknologi dan pasar,  peningkatan kemampuan SDM aparatur dan petani dibidang model bisnis dan teknologi digital, penguatan kelembagaan produksi dan ekonomi petani serta pendampingan/pengawalan terhadap petani dalam melakukan usaha tani yang lebih baik dan menguntungkan. Tidak kalah pentingnya adalah melanjutkan gerakan kebijakan dan program percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis potensi sumber daya lokal.

(Diolah dari berbagai referensi dan pemberitaan)

Asikin CHALIFAH

KASONGAN, Bantul, YOGYAKARTA, 28 Juli 2021.

》 Pembina Rumah Literasi (RULIT) WASKITA, Kedungtukang, BREBES.
》 Ketua DPW PERHIPTANI DIY
》 SEKJEN KOPITU (Komite UMKM Indonesia Bersatu).

Wed, 28 Jul 2021 @20:14


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2021 Yayasan BAKAT (Pengembangan Masyarakat) · All Rights Reserved