logo
Selamat Datang
image

Community Development

0811767894


Website Resmi Yayasan Bakat
Akta Notaris No. XX, Tgl 24 April 2003
Pengesahan : C-XXX.HT.XX.XX.TH.2004 (Men Keh & HAM)
SKT : XX/BKBPPM/SKT/XX/XX/2010 (Pemprov. Riau)
No. Rek. 034 10 21307
BCA Pekanbaru
Cek Nama Domain Yang Ingin anda miliki

Cek Nama Domain ?

Kategori Tulisan
Komentar Terbaru
SMS GRATIS

Memakai fasilitas sms gratis ini. sebaiknya anda menuliskan nama anda di bawah pesan, karena nomor pengirim bukan lah nomor anda malainkan nomor server dari widget sms gratis ini..Terima kasih

JAWABAN SMS

Website yang Menggunakan

WEB MATIC by : Pak Magolang

 

widgeo.net
Pesanan/Berbelanja :

PENDEKATAN KONSTRUKTIVIS SOSIAL, MENYENANGKAN, DAN TANPA TEKANAN DALAM PEMBELAJARAN

image

 

I.       PENDAHULUAN

Konstruktivisme menjadi kata kunci dalam pembelajaran saat ini, karena itu kecenderungan pembelajaran saat ini lebih memfokuskan pada perlunya pembelajar berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, pembelajaran berbasis masalah untuk mengembangkan kemampuan belajar mandiri, perlunya pembelajar memiliki kemampuan untuk mengembangkan pengetahuannya sendiri, serta perlunya guru/dosen berperan menjadi fasilitator, mediator, dan manejer dalam proses pembelajaran. Menurut Von Glasersfeki (1989) gagasan pokok konstruktivisme sebenarnya dimulai oleh Glambatista Vico, seorang epistemology dari Italia. Pada tahun 1710, Vico dalam De Antiquissima Italorum Soaplentia mengungkapkan filsafatnya, “ Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan”. Dia menjelaskan bahwa mengetahui berarti mengetahui bagaimana membuat sesuatu. Bagi vico pengetahuan selalu merujuk kepada struktur konsep yang dibentuk. 

Banyak pemikir konstruktivisme lainnya yaitu Piaget, Vigotsky. Menurut penulis, selama beberapa dasawarsa terakhir ini, konstruktivisme telah banyak mempengaruhi pendidikan di banyak Negara. Sehingga prinsip-prinsip konstruktivisme yang diambil adalah bahwa pengetahuan dibangun oleh pembelajar sendiri, pengetahuan yang dibangun melalui keaktifan pembelajar sendiri untuk menalar, pembelajar aktif mengkonstruksi terus menerus agar selalu terjadi perubahan konsep menuju ke arah yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah, guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi pembelajar berjalan. Konstruktivisme merupakan salah satu aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi (bentukan) kita sendiri. Pengetahuan bukanlah suatu imitasi dari kenyataan, dan bukanlah gambaran dari dunia kenyataan yang ada.

Dengan demikian pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif dari kenyataan yang terjadi melalui serangkaian aktivitas seseorang. Seseorang (pembelajar) membentu skema, kategori, konsep, dan struktur pengetahuan yang diperlukan untuk pengetahuan (Battencourt, 1989). Pengetahuan juga merujuk pada pengalaman seseorang akan dunia tetapi bukan dunia itu sendiri. Tanpa pengalaman mengakibatkan seseorang tidak dapat membentuk pengetahuan.

II.    PEMBAHASAN

A.    Pendekatan Kontruktivis Sosial Untuk Pengajaran

 

Sistem pendidikan turut menentukan sukses tidaknya suatu negara, terutama dalam berpacu mengejar kemajuan negara-negara lain. Semua masyarakat wajib berperan aktif membangun sistem pendidikan formal. Ketahanan dan kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh 4 (empat) hal essensial. Pertama, ditentukan oleh seberapa banyak dan intens inovasi dan proses kreatif yang bisa diciptakan oleh suatu bangsa. Kedua, seberapa tinggi teknologi yang mampu diciptakan dan dimanfaatkan oleh bangsa itu. Ketiga, seberapa luas dan sistemiknya jaringan yang bisa dibangun dan digunakan. Keempat, ada tidaknya sumberdaya alam.

Dalam membahas ranah Ipteks, tidak bisa dipisahkan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan secara teknis operasional tidak bisa dipisahkan dengan salah satu unsur essensial dalam pendidikan kita yaitu guru.  Sesuai visi Pendidikan Nasional yang diatur dalam Undang-undang Nomor : 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, maka kita berharap akan terwujud suatu sistem pendidikan yang baik, cerdas dan kompetitif. Banyaknya bangsa yang tidak bisa mengajar ketertinggalan adalah keterbelakangan dalam modal, sumberdaya, dan tingkat pendidikan tidak memadai.

  Keterbatasan akses terhadap modal, sumberdaya, dan tingkat pendidikan membuat suatu bangsa rendah dalam disiplin kerja, disiplin waktu, dan ketertiban. Akibatnya suatu bangsa tidak raisonal, sulit beradaptsai dengan perubahan, kurang berambisis, mudah dieksploitasi dan jarang bisa bekerja dalam tim secara harmonis.Terminologi daya saing sering menggambarkan tingkat ketahanan suatu bangsa dalam bersaing secara kolektif.

Ketika tiba ke level individual sering diterjemahkan ke kata kompetitif. Agar bisa mengadopsi segala perubahan maka harus memenagkan persaingan yang berlandaskan kecerdasan. Tanpa kecerdasan maka kemenangan atas suatu persaingan tidak bersifat  langgeng dan mutlak. Memenangkan persaingan jika bukan berdasarkan kecerdasan adalah keberuntungan; keberuntungan bisa datang dan bisa tidak datang.  Daya tahan suatu bangsa harus ditopang oleh SDM yang kompetitif berdasarkan kecerdasan yang dibangun melalui pendidikan.

Salah satu unsur yang bisa membuat sistem pendidikan yang kuat berhasil guna adalah pendidiknya. Dalam dunia pendidikan para pemikir konstruktivis menekankan berbagai cara dalam pembentukan pengetahuan . Guru memiliki dwi fungsi tugas yaitu sebagai pengajar dan pendidik. Karena itu, dalam Standar Kompetensi Guru (Diknas, 2003) disebutkan salah satu kompetensi yang harus dimiliki dan dikuasai guru adalah dapat mengelola strategi belajar mengajar secara efektif dan efisien.[1] Secara umum yang disebut konstruktivisme menekankan kontribusi seseorang pembelajar dalam memberikan arti, serta belajar sesuatu melalui aktivitas individu dan sosial.

Pengetahuan dibentuk secara sosial, yaitu terhadap apa yang masing-masing partisipan kontribusikan dan buat secara bersama-sama. Sedangkan perkembangan pengetahuan yang dihasilkan akan berbeda-beda dalam konteks budaya yang berbeda. Pemikir kontruktivis menekankan berbagai kontruksi sosial dalam pembentukan pengetahuan (konstruktivisme sosial).

Jadi, menurut penulis konstruktivis sosial adalah Interaksi sosial, alat-alat budaya, dan aktivitasnya membentuk perkembangan dan kemampuan belajar individual. Demikian pula pendekatan konstruktivis sosial ini merupakan alat-alat budaya (termasuk di dalamnya kertas, mesin cetak, komputer dll) dan alat-alat simbolik (seperti sistem angka, peta, karya seni, bahasa, serta kode dan lambang) yang dapat memainkan peran penting dalam perkembangan kognitif. Semua proses mental tingkat tinggi, seperti berpikir dan pemecahan masalah dimediasi dengan alat-alat psikologi seperti bahasa, lambang dan simbol.

Setelah itu anak menginternalisasi hal tersebut. Alat psikologis ini dapat membantu siswa meningkatkan perkembangan mental dan berpikirnya. Sedangkan pada saat anak berinteraksi dengan orang tua atau teman yang lebih mampu, mereka saling bertukar ide dan cara berpikir tentang representasi dan konsep. Sehingga pengetahuan, ide, sikap dan sistem nilai yang dimiliki anak berkembang.

Menurut Driver dan Oldham dalam Mattehw (1994) pembelajaran berlandaskan konstruktivisme akan bercirikan sebagai berikut  oroentasi, elisitasi, rekrutisasi ide, penggunaan ide dalam banyak situasi dan review bagaimana ide berubah.

Menurut Brook & Brooks (1993), perbedaan situasi pembelajaran (dalam kelas) berdasarkan konstruktivisme dan pembelajaran tradisional adalah sebagai berikut :

Pembelajaran tradisional

Pembelajaran Konstruktivisme

Ruang lingkup pembelajaran disajikan secara terpisah, bagian per bagian, dengan penekanaan pada pencapaian ketrampilan dasar

Ruang lingkup pembelajaran disajikan secara utuh dengan penjelasan tentang keterkaian antar bagian, dengan penekanana pada konsep-konsep

Kurikulum harus diikuti sampai habis

Pertanyaan pembelajar dan konstruksi jawaban pembelajar adalah penting

Kegiatan pembelajaran hanya berdasrkan buku teks yang sudah ditentukan

Kegiatan pembelajaran berlandaskan beragam sumber informasi primer dan materi-matrei yang dapat dimanipulasi langsung oleh pembelajar

Pembelajar dilihat sebagai ember kosong tempat ditumpahkannya semua pengetahuan dari guru

Pebelajar dilihat sebagai pemikir yang mampu menghasilkan teori-teori tentang dunia dan kehidupan

Guru mengajar dan menyebarkan informasi keilmuan kepada pembelajar

Guru bersikap interaktif dalam pembelajaran, menjadi fasilitator dan mediator dari lingkungan bagi pebelajar dalam prose belajar

Guru selalu mencari jwaban yang ebnar untuk memvalidasi prose belajar pembelajar

Guru mencoba mengerti persepsi pebelajar agar dapat melihat pola piker pebelajar dan apa yang sudah diperoleh pebelajar unty pembelajaran selanjutnya

Penilaian terhadap proses belajar pembelajar merupakan bagian terpisah dari pembelajaran , dan dilakuakn hanpir selalu dalam buntuk tes/ujian

Penilaian terhadap proses belajar pembelajar merupakan bagian integral dalam pembelajaran, dilakukan melalui observasi guru terhadpa hasil kerja pebelajar, melalui pemeran karya pebelajar, dan fortofolio

Pembelajar harus selalu bekerja sendiri

Lebih banyak pebelajar belajar dalam kelompok

Kehidupan manusia berada dalam sistem yang kompleks. Dalam sistem sosial, manusia selalu berinteraksi antara satu dengan lainnya. Interaksi yang berlangsung itu mengandung pesan, pikiran, perasaan dan keinginan yang disampaikan oleh seseorang kepada yang lainnya.[2]

Pendekatan konstruktivis sosial mempunyai beberapa konsep umum seperti:

 

a.       Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.

b.      Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.

c.       Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.

d.      Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.

e.       Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah.

f.       Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai keterkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik minat pelajar.

Tujuan dari proses pembelajaran adalah mendidik dan membekali siswa dengan seperangkat pengetahuan, sikap, nilai, moral dan keterampilan untuk memahami lingkungan sosial masyarakat dapat dicapai. Hal ini juga dapat menjadikan pembelajaran Sosial lebih menarik, penuh tantangan dan semangat dalam mempelajarinya.  Oleh karena itu lebih tepat, kalau anak didik dipandang sebagai subyek dalam proses belajar.[3]   Model pembelajaran yang dilakukan dapat mencoba menggabungkan antara strategi mengajar bentuk dan dinamika proses demokrasi dengan proses inkuiri akademik.

  Proses pembelajaran yang berupa pengetahuan sosial berorientasi terhadap pemecahan masalah. Jadi, siswa dapat berdiskusi dalam mencari makna agar dapat mengkonstruksi pengetahuan melalui interaksi sosial dengan orang lain.

Sehingga timbul harapan adanya pengembangan potensi siswa secara optimal untuk belajar mandiri serta belajar bersama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam wawasan ini guru secara fleksibel menempatkan diri agar siswa menjadi semangat dalam pembelajaran. Pada saat-saat tertentu guru membiarkan anak mengeksplorasi dan bereksperimen sendiri dengan lingkungannya. Maka proses yang terjadi akan beragam sesuai dengan konteks kulturalnya.

Pendekatan konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan pendekatan asing bagi persepektif pendidikan di Indonesia. Ki Hajar Dewantoro, seorang tokoh pendidikan nasional, sudah lama memperkenalkan pendekatan pendidikan yang diungkapkan melalui tiga prinsip utama peran pendidik, yaitu; ‘ing ngarso sung tulodo’ (bila berada di depan anak didik, beri contoh tauladan), ‘ing madyo mbangun karso’(bila berada di tengah-tengah siswa, bangunkan keinginan anak untuk belajar), dan tut wuri handayani (bila dibelakang anak didik, beri dorongan semangat). Tujuan dapat membatasi ruang gerak usaha, agar kegiatan dapat terfokus dalam memberikan  penilaian atau evaluasi pada usaha-usaha pendidikan.

Dalam hal ini melalui pendekatan juga merupakan usaha yang penting.Pendekatan kontruktivis sosial untuk pengajaran menekankan pada konteks sosial dari pembelajaran dan bahwa pengetahuan itu dibangun dan dikontribusi secara bersama (mutual).Keterlibatan dengan orang lain membuka kesempatan bagi murid untuk mengevaluasi dan memperbaiki pemahamaan mereka saat mereka bertemu dengan pemikiran orang lain dan saat mereka berpartisipasi dalam pencarian pemahaman bersama. Dengan cara ini, pengalaman dalam konteks sosial memberikan mekanisme penting untuk perkembangan pemikiran murid. Ada pergeseran konseptual dari individual ke kolaborasi, interaksi sosial dan aktivitas sosiokultural. Murid mengkonstruksi pengetahuan melalui interaksi sosial dengan orang lain.   Isi dari pengetahuan ini dipengaruhi oleh kultur di mana murid tinggal, yang mencakup bahasa, keyakinan, dan keahlian /ketrampilan. Dalam salah satu analisis terhadap pendekatan konstruktivis sosial, guru dikatakan tertarik untuk melihat pembelajaran melalui tatapan mata murid.

Analisis yang sama juga mencatat beberapa karakteristik kelas kontruktivis social memiliki orientasi tujuan yang memiliki kontruksi makna kolaboratif. Guru memantau perspektif, pemikiran dan perasaan murid.

Interaksi social mendominasi kelas. Kurikulum dan isi fisik dari kelas mencerminkan murid dan dipengaruhi oleh kultur mereka. Startegi pengajaran yang dilakukan dalam pendekatan kontruktivis social ini adalah menekankan agar individu secara aktif menyusun dan membangun.

  Menurut pandangan konstruktivis, guru bukan sekedar memberi informasi ke pikiran anak, akan tetapi guru harus mendorong anak untuk mengekplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung dan berpikir secara kritis. Seorang guru yang menganut filosofi konstruktivis tidak akan meminta anak-anak sekedar menghafal informasi, tetapi juga memberi mereka peluang untuk membangun pengetahuan dan pemahaman materi pelajaran.

  Beberapa pendidik lama masih percaya bahwa guru harus mengarahkan dan mengontrol cara belajar anak. Mereka juga percaya bahwa konstruktivis seringkali tidak fokus pada tugas akademik dasar. Kompetensi yang ada pada guru harus diterapkan yaitu kompetensi pedagogic, kepribadian,  sosial dan personal.

Ciri-ciri pembelajaran pendekatan konstruktivis sosial

a.       Memberi peluang kepada murid membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam dunia sebenarnya.

b.      Menyokong pembelajaran secra kooperatif

c.       Menggalakkan dan menerima serta autonomi murid

d.      Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran

e.       Menggalakkan kecerdasan murid melalui kajian dan eksperimen.

Dari ciri-ciri tersebut dapat ditemukan garis besar, prinsip-prinsip pendekatan Konstruktivis sosial yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah sebagai berikut :

1.      Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri

2.      Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya

3.      dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.

4.      Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.

5.      Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi belajar lancar.

6.      Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa.

7.      Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan.

8.      Mencari dan menilai pendapat siswa.

9.      Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.

    Demi menciptakan suasana pembelajaran agar optimal dari perspektif penyampaian, guru (yang sejati) harus sejauh mungkin melibatkan sebanyak-banyaknya peserta didik secara maksimal.[4] Karena apa yang membuat mereka mengerti dan menguasai adalah ketika melibatkan mereka. Ini berarti guru juga harus kompeten bergaul secara santun dengan masyarakat di sekitarnya.

Beberapa strategi pembelajaran konstruktivis sosial adalah belajar aktif, belajar mandiri, belajar kooperatif dan kolaboratif, generative learning, dan model pembelajaran kognitif, antara lain problem based learning, dan cognitive strategis.

 

B.     Menyusun Kelompok Kerja Kecil

Dalam pengajaran kepada kelompok kerja kecil, semua langkah intruksional masih dapat diimplementasikan dengan cukup baik dan dengan fleksibilitas yang cukup tinggi diperlukan kadar bimbingan belajar, kadar ketelitian dan kadar kepastian mengenai kemajuan masing-masing dalam kelompok. Tujuan harus mencakup segala aspek perkembangan peserta didik yang menjadi tanggung jawab sekolah.[5]

Apabila kelompok yang terdiri atas dua-delapan orang dapat dikatakan kelompok kerja kecil. Kelompok kerja kecil memnugkinkan digunakannya prosedur diskusi kelompok. Dan sistem pengajaran kepada kelompok ini dapat berupa bentuk pengajaran yang sesuai. Efesiensi dan efektivitas bimbingan belajar terhadap masing-masing kelompok, akan bergantung pada kemampuan siswa yang menjadi ketua dalam mengarahkan pembicaraan, meskipun tenaga pengajar masih berkesempatan untuk berkeliling dan memberikan petunjuk. Menyusun kelompok kerja kecil biasanya dilakukan melalui strategi pembelajaran Kooperatif.

Karena pembelajaran kooperatif terjadi ketika murid bekerja sama dalam kelompok kecil (kelompok belajar) untuk saling membantu dalam belajar.

Langkah-langkah dalam cooperative learning :[6]

  1. Guru mendesain rencana pembelajaran, tujuan yang inging dicapai, ketrampilan apa yang diharapkan akan muncul.
  2. Guru harus menjelaskan desain ini kepada siswa.
  3. Guru menjelaskan sedikit tentang bahan pelajaran, tidak panjang lebar karena matrei lebih dalam akan digali oleh siswa dalam kelompoknya.

  Setelah kelompok membahasa materi dan permasalahan yang diberikan oleh guru, masing-masing kelompok diminta mempersentasikan hasil kelompoknya. Dalam diskusi kelas ini, guru bertindak sebagai moderator, agar dapat mengoreksi secara langsung jika terjadi kekeliruan pendapat. Disamping itu guru dapat menambah ateri pengayaan, dan memberi penekanan terhadap nilai, sikap, dan perilakau sosial yang harus dikembangkan dan dilatih oleh siswa.

Model-Model Cooperative Leraning merupakan variasi yang dapat dijadikan sebagai metode pembelajaran. Hal ini dijelaskan oleh salah satu tokoh Slovin.

Menurut Slovin ada beberapa metode yang dapat diterapkan yaitu :

  1. STAD = Student Team Achievement Division
  2. Jigsaw
  3. Group Investigation (GI)
  4. Rotating Trio Exchange
  5. Group Resume

Hal yang ditetapkannya dalam model yang dikembangkan itu belajar yang didasarkan pada pengalaman (experienced-based learning situation) yang diharapkan dapat mengarah pada metode-metode ilmiah dan memiliki kemungkinan pengembangan dan penerapan dalam situasi kehidupan. Model tersebut didasari pandangannya tentang citra sosial manusia. Manusia tanpa merujuk manusia lainnya. Dalam hubungannya dengan sekolah maka kelas menurut Herbert merupakan bentuk kecil masyarakat, yang memiliki keteraturan dan budaya di mana para siswa memperhatikan dan memeliharanya dalam mengembangkan pandangan hidupnya yaitu ukuran dan harapan.

Siswa mempelajari cara-cara ilmiah melalui berbagai pengetahuan dan keterampilan serta nilai-nilai yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah. Di sinilah kiranya peranan model penelitian kelompok dalam pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Penerapan dimulai dengan menghadapkan siswa kepada masalah, yang muncul dari sumber-sumber yang berbeda. Masalah itu bisa dalam bentuk verbal ataupun merupakan bagian dari suatu pengalaman. Dalam mengadakan pembagian kelompok, dapat digunakan berbagai cara yaitu pembentukan kelompok diseerahkan kepada siswa, pemebentukan kelompok diatur oleh guru sendiri, pembentukan kelompok diatur oleh guru atas usl siswa tetapi guru mengadakan perubahan terhadap usul siswa bila dipandnag perlu.

Jika siswa telah menunjukan minat terhadap reaksi-reaksi yang berbeda itu maka guru mendorong siswa untuk merumuskan masalah untuk diri mereka. Hal ini berarti bahwa siswa berkemampuan lebih tinggi secara akademik mendapat keuntungan karena memberi bantuan sebagai tutor pada topik tertentu yang memerlukan pemikiran yang lebih mendalam. Sehingga ada rasa peningkatan terhadap kemajuan prestasi siswa.

 

     Beberapa hal yang dapat diterapkan dalam menyusun kelompok kerja kecil yaitu :

a.       Sistem sosial. Model tersebut adalah demokratik. Masalah dimunculkan oleh guru atau ditentukan oleh guru sebagai objek pengajaran. Guru dan siswa mempunyai status yang sama.

b.      Prinsip-prinsip reaksinya adalah guru bertindak sebagai konselor tanpa mengganggu struktur yang ada.

c.       Sistem yang menunjang. Dukungan yang diberikan guru bersifat ekstensif dan
responsif terhadap kebutuhan siswa. Perpustakaan yang baik merupakan keperluan esensial bagi model tersebut. Disamping itu hubungan dan kontak-kontak dengan lembaga-lembaga diluar sekolah dan juga pribadi-pribadi diperlukan oleh siswa untuk memecahkan masalah yang menjadi focus pelajaran.

d.      Model yang dapat digunakan untuk semua bidang pelajaran dan juga dapat digunakan sebagai aspek di dalam merumuskan dan memecahkan masalah.

  Dengan melihat bahwa ada berbagai keuntungan dari model ini maka juga dapat diterapkan dalam pengajaran tersebut yang sering menggunakan metode pemecahan masalah.

     Maka, pengelompokan itu pada dasarnya disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:

1.      Adanya alat pelajaran yang tidak mencukupi jumlahnya. Agar pengunaan alat pengajaran dapat lebih efisien dan efektif, maka siswa perlu dijadikan kelompok-kelompok kecil. Dengan pembagian kelompok mereka dapat memanfaatkan alat-alat yang terbatas itu dengan sebaik mungkin, tanpa saling menunggu gilirannya.

2.      Kemampuan belajar siswa. Di dalam kelas kemampuan belajar siswa tidak sama. Dengan adanya perbedaan kemampuan belajar itu, maka perlu dibentuk kelompok menurut kemampuan belajar masing-masing, agar setiap siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya.

3.      Minat khusus. Setiap individu memiliki minat khusus yang perlu dikembangkan, sehingga memungkinkan dibentuknya kelompok. Agar mereka dapat dibina dan mengembangkan bersama minat khusus tersebut.

4.      Memperbesar partisipasi siswa. Mengikutsertakan setiap siswa untuk berperan aktif akan lebih efektif jika dibentuk kerja kelompok, karena setiap siswa akan ikut serta melaksanakan tugas dan memecahkan masalah yang diberikannya itu.

5.      Pembagian tugas atau pekerjaan. Di dalam kelas bila guru menghadapi suatu masalah yang meliputi berbagai persoalan, maka perlu membahas masing-masing persoalan pada kelompok harus membahas tugas yang diberikan itu.

6.      Kerja sama yang efektif. Dalam kelompok siswa harus dapat bekerjasama, mampu menyesuaikan diri, menyelaraskan pikiran /pendapat, ide, gagasan untuk kepentingan bersama, sehingga mencapai tujuan bersama pula.

  Ditinjau dari segi teorinya kelompok atau kooperatif ini sangat membantu siswa dalam mencapai tujuan belajar tetapi fakta dilapangan menunjukkan masih banyak pengajar/guru dilapangan jarang sekali menggunakan metode pembelajaran kooperatif ini, hal ini tidak dapat dipungkiri dikarenakan anggapan bahwa menggunakan metode kooperatif dipandang lebih sukar dibandingkan dengan metode konvesional (yang bisa digunakan guru dalam dalam membelajarkan siswanya seperti metode ekspositori).

  Pengelompokan siswa di dalam kelas dapat dilakukan menurut faktor kemampuan belajar siswa yang berbeda secara acak. Kemampuan belajar siswa dengan prestasi siswa yang tinggi dari rangking 1 sampai dengan 10 ditempatkan dalam satu kelompok sebagai pimpinan kelompok. Kemudian siswa yang lain dibagi secara acak sebagai anggota kelompok.

Tujuan paling penting dari kooperatif adalah memberikan pengetahuan, pemahaman, konsep dan keterampilan yang diperlukan siswa dan setiap siswa merasa senang menyumbangkan pengetahuannya kepada teman-teman kelompknya.

Strategi pembelajaran kooperatif yang diterima paling banyak dikembangkan dengan pembentukan kelompok yang beraneka ragam melalui berbagai cara.

Ada beberapa keuntungan pembelajaran kooperatif antara lain :

a.       Metode ini melibatkan semua siswa secara langsung dalam proses belajar.

b.      Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dalam berkelompok.

c.       Setiap siswa dapat kesempatan lebih terampil bertanya dan intensif   mengadakan penyelidikan masalah.

d.      Dapat memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan siswa sebagai   individu serta kebutuhannya belajar.

e.       Para siswa lebih kreatif tergabung dalam pelajaran mereka dan lebih aktif berpartisipasi dalam kelompok.

Kelompok belajar bersama ini bervariasi dalam ukurannya, meskipun biasanya terdiri dari empat orang.

Adapun tujuan dari teori ini adalah sebagai berikut :

1.      Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri.

2.      Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya.

3.      Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap.

4.      Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.

5.      Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.

Jadi, cara tersebut akan menghasilkan pemahaman tuntas dan utuh atas semua fenomena yang dipelajari.

Mengemukakan pendapat dan mengungkapkan untuk membangun makna adalah hal penting dalam komunikasi pembelajaran.[7]   Karena dapat menciptakan kondisi yang menantang dan pemberian kebebasan yang luas kepada siswa untuk beraktifitas, memungkinkan siswa menganalisis permasalah secara kritis, dan mencari pemecahannya secara kreatif. Sebab kreatifitas akan muncul dalam suasana dan lingkungan yang menantang namun dirasa aman, dan tidak takut akan mendapat hukuman apabila terjadi kesalahan. Proses belajar yang dialami siswa juga harus melatih dan meningkatkan kematangan emosional dan sosialnya. Pada akhirnya seluruh proses belajar yang dilakukan siswa akan membawanya pada peningkatan produktivitas menjadi lebih tinggi. Suasana dan pengalaman belajar harus bervariasi agar mereka mampu berpikir kritis, kreatif, mampu memecahkan masalah, memiliki kematangan emosional/sosial, dan memiliki produktivitas tinggi.

Prestasi adalah hasil yang dicapai siswa. [8] Maksudnya dalam bentuk angka berupa ulangan, ujian. Maksud ulangan tersenut untuk memperoleh suatu indeks dalam menentukan hasil belajar siswa.[9] Oleh karena itu guru harus mampu mendeteksi dini dan diagnosa potensi peserta didiknya dengan cara melakukan pendekatan pendidikan anak cerdas istimewa dalam sekolah dengan murid beragam (Inklusi ); menyiapkan skenario bagaimana mengatasi berbagai masalah yang umum terjadi pada anak-anak cerdas istimewa. 

Jadi guru membantu memahami diri siswa dan lingkungannya serta harus menerima usaha-usaha seorang anak atau seorang dewasa untuk melunasi kewajiban yang mereka rasa mungkin mereka miliki. Peserta didik memerlukan bekal ketrampilan dengan menyesuaikan diri pada kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, dan teknologi informasi.Karena tugas pendidikan juga mempertinggi kecerdasan dan kemampuan dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi, beserta manfaat dan aplikasinya, meningkatkan kualitas hidup dengan memelihara, mengembangkan, serta meningkatkan “budaya” dan lingkungan, memperluas pandangan hidup sebagai manusia yang komunikatif terhadap keluarga, masyarakat, bangsa dan sesama makhluk lain.

Upaya dalam pencapaian tujuan harus dilaksanakan dengan semaksimal mungkin. Agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar dan mencapai tujuan yang diharapkan.

Disamping keunggulan dari pembelajaran kooperatif sebagaimana disebutkan di atas, metode ini memiliki kelemahan antara lain

(1) Pembelajaran kooperatif sering hanya melibatkan kepada siswa yang mampu dan pandai

(2) Adanya perselisihan pendapat dan terjadi perpecahan dalam kelompok karena mempertahankan pendapat dalam menyelesaikan masalah.

(3) Keberhasilan pembelajaran kooperatif ini tergantung kepada kemampuan siswa memimpin kelompok atau untuk kerja sendiri.

Disamping keunggulan sistem pembelajaran cooverative learning ini juga memiliki hambatan yaitu :

1.      Untuk siswa yang dianggap memilki kelebihan akan merasa terhambat oleh siswa yang dianggap kurang memilki kemampuan. Akibatnya, keadaan semacam ini dapat mengaganggu iklim kerja sama dalam kelompok.

2.      Tanpa peer teaching yang efektif bisa terjadi cara belajar yang tidak pernah dicapai oleh siswa

3.      Penilaian yang diberikan didasarkan kepada hasil kerja kelompok, padahal guru perlu menyadari bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang diharapkan adalah prestasi setiap individu siswa.

4.      Memerlukan periode waktu yang cukup panjang, tidak mungkin dapat tercapai hanya dengan satu kali atau sekali-sekali penerapan strategi ini

5.      Bekerjasama merupakan kemampuan sangat penting, akan tetapi banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan secara individual. Selain bekerja sama siswa juga harus belajar bagaimana membangun kepercayaan diri

Untuk mengatasi problematika hambatan tersebut perlu usaha penanggulangannya. Roger dan David Johnson  (Lie, 2004) mengatakan bahwa “ Tidak semua kerja kelompok bisa dianggap Cooperative  learning”.

Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima  unsur model pembelajaran gotong royong   harus diterapkan antara lain :

(a) Saling ketergantungan positif.

(b) Tanggung jawab Perseorangan.

(c) Tatap muka.

(d) Komunikasssi antaranggota.

(e) Evaluasi Proses Kelompok.

Pembelajaran kooperatif ini dapat dilaksanakan dalam bentuk kerja kelompok campuran. Dalam kerja kelompok ini siswa diberi kesempatan untuk mengerjakan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sehingga kelompok yang pintar dapat selesai lebih dahulu tidak usah menunggu kelompok yang lain. Kelompok siswa yang agak lambat diizinkan menyelesaikan tugasnya dalam waktu yang sesuai dengan kemampuannya.

 

C.    Program Kontruktivis Sosial

Model pembelajaran pendekatan konstruktivis sosial memerlukan program yang harus diwujudkan. Hal ini terutama dalam pembahasan yang berkaitan dengan kelompok kerja kecil atau strategi pembelajaran kooperatif (SPK). Ada empat unsur penting dalam SPK, yaitu : (1) adanya peserta dalam kelompok; (2) adanya aturan kelompok; (3) adanaya upaya belajar setiap anggota kelompok; dan (4) adanya tujuan yang harus dicapai. [10] Slavin, Arbani, dan Chambers (1996) berpendapat bahwa belajar melalui kooperatif dapat dijelaskan dari beberapa perspektif, yaitu perspektif motivasi, perspektif sosial, perspektif perkembangan kognitif, perspektif elaborasi kognitif. Setiap anak unik dan memiliki karakteristik yang berbeda. Pada dasarnya mereka juga memiliki rasa ingin tahu dan daya imajinasi.

Maka program ini secara terinci menggariskan tujuan instruksional umum yang ditunjang, tujuan instruksional khusus yang harus dicapai, satuan bahasan yang dipelajari, peranan guru, alat-alat serta sumber yang dipakai, kegiatan belajar yang dilakukan siswa secara berurutan serta tugas-tugas yang harus dikerjakannya, cara diadakan evaluasi serta alatnya dan cara siswa mendapatkan umpan balik. Agar program konstruktivis sosial antara guru dan siswa dapat mencapai tujuan yang ingin memiliki kontribusi yang sama dalam pembelajaran. Maka guru harus mengetahui karakteristik strategi pembelajaran kooperatif yaitu :

a.       Pembelajaran Secara Tim

b.      Didasarkan pada Manajemen Kooperatif

c.       Kemauan untuk bekerja Sama

d.      Ketrampilan bekerja sama

Setelah menerapkan hal tersebut maka guru juga harus mengetahui prosedur pembelajaran kooperatif. Prosedur pembelajaran ini pada prinsipnya terdiri atas empat tahap, yaitu : (1) penjelasan materi; (2) belajar dalam kelompok; (3) penilaian, dan (4) pengakuan tim.

Dalam pembelajaran kooperatif, biasanya tidak banyak memakan waktu murid dalam satu hari pelajaran atau satu tahun ajaran. Dalam hal ini proses pembelajaran kooperatif adalah model membelajarkan siswa secara kooperatif atau bergotong royong untuk mencapai tujuan belajar yang semaksimal mungkin.

Dari pendekatan konstruktivis sosial tersebut apabila kita hubungkan dengan pelaksanaan yang ada dalam pendidikan. Upaya yang dilakukan melalui pendekatan konstruktivis tersebut dapat juga berupa mengembangkan wawasan spiritual yang semakin mendalam, serta mengembangkan pemahaman rasional dalam konteks kehidupan modern, membekali peserta didik dengan berbagai pengathuan dan kebajikan, baik pengetahuan praktis, kekuasaan, kesejahteraan, lingkungan sosial, dan pembangunan nasional, mengembangkan wawasan relasional dan lingkungan sebgaimana yang dicita-citakan dalam Islam, dengan melatih kebiasaan baik serta membantu peserta didik yang sedang tumbuh untuk belajar berpikir secra logis dan membimbing proses pemikirannya dengan berpijak pada hipotesis dan konsep-konsep tentang pengethaun yang dituntut.

Maka melalui upaya tersebut dapat diambil hikmah dari pendekatan konstruktivis melalui pengajaran. Karena memberikan peranan penting dalam pendidikan terutama dalam mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia secara total melalui berbagai aspek sosial baik dalam level individu, komunitas, dan manusia secara luas. Untuk terciptanya kelompok kerja yang efektif, setiap anggota kelompok perlu membagi tugas sesuai dengan tujuan kelompoknya. Tugas tersebut disesuaikan dengan kemampuan setiap anggota kelompok. Setiap kelompok harus memiliki tanggung jawab sesuai dengan tugasnya sehingga anggota harus memberikan yang terbaik untuk keberhasilan kelompoknya.

Untuk mencapai hal tersebut, guru perlu memberikan penilaian terhadap individu dan juga kelompok. Penilaian individu bisa berbeda, akan tetapi penilaian kelompok harus sama. Kelompok belajar dibentuk secara heterogen, yang berasal dari budaya, latar belakang sosial, dan kemampuan akademik yang berbeda.

  Perbedaan semacam ini akan menjadi modal utama dalam proses saling memperkaya antar anggota kelompokn. Serta ketrampilan berkomunikasi perlu terus dilatih samapi pada akhirnya setiap siswa memliki kemampuan untuk menjadi komunikator yang baik. Perangkat komponen pada masing-masing sistem pengajaran menggunakan modul yang berupa pedoman guru /petunjuk guru, lembaran kegiatan siswa, lembaran kerja, kunci lembaran kerja, lembaran tes dan kunci lembaran tes. Program pengayaan juga penting untuk memberikan kesempatan kepada siswa yang menyelesaikan lebih cepat.

Hal ini dilakukan agar kemajuan dalam belajarnya dapat berkembang terus maka memperluas materi yang berbentuk mengapilkasikan, menciptakan alat-alat, mengerjakan teka-teki dan sebagainya. Bentuk aktifitas yang dilakukan siswa bukan hanya aktifitas fisik tetapi dan terutama aktifitas mental, karena inti dari kegiatan belajar adalah adanya aktifitas mental. Tanpa keterlibatan mental dalam suatu aktifitas yang dilakukan siswa maka tidak akan pernah terjadi proses belajar di dalam dirinya. Pembelajaran ini mampu “membawa” para siswanya menguasai kemampuan yang diharapkan di akhir proses pembelajaran.

Keefektifan pembelajaran dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi guru yang melaksanakan pembelajaran, dan dari sisi siswa yang belajar. Dilihat dari sisi guru, pembelajaran dikatakan efektif apabila pembelajaran mampu menstimulasi aktifitas siswa secara optimal untuk melakukan kegiatan belajar dan seluruh atau sebagian besar aktifitas yang direncanakan dapat terlaksana.

Sementara bila dilihat dari sisi siswa, pembelajaran dikatakan efektif apabila pembelajaran tersebut dapat mendorong siswa untuk melakukan berbagai kegiatan belajar secara aktif, dan di akhir pembelajaran para siswa mampu menguasai seluruh atau sebagai besar tujuan pembelajaran yang ditetapkan, dan penguasaan pengetahuan tersebut dapat bertahan dalam waktu yang relatif lama.   Seluruh proses pembelajaran di atas, diharapkan pembelajaran yang dialami siswa menjadi menyenangkan.

Pembelajaran yang menyenangkan tidak identik dengan pembelajaran yang gaduh, berisik, dan tidak terkendali. Pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang dilakukan oleh siswa secara sukarela, tanpa ada unsur paksaan dari luar; siswa melakukan aktifitasnya dengan hati yang senang dan tidak terkekan.

Hal itu akan terjadi apabila situasi pembelajaran terbuka, demokratis, dan menantang. Para siswa memiliki kesempatan untuk melakukan berbagai aktifitas tanpa harus takut salah dan dimarahi oleh siapapun. Pembelajaran yang menyenangkan, siswa akan dapat mencurahkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya (time on task) tinggi.

Melalui usaha tersebut siswa sebagai pusat pembelajaran akan ditandai oleh adanya aktif, berpartisipasi, bekerja, berinteraksi, menemukan dan memecahkan masalah. Dalam kegiatan pengajaran komunikasi sering terjadi hanya satu arah, yaitu dari guru kepada siswa, sehingga siswa lebih banyak pasif.

  Pada saat guru menyampaikan materi pelajaran, yang biasanya dilakukan melalui ceramah, para siswa hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru. Melalui penerapan konsep pembelajaran ini maka siswa akan menjadi aktif melakukan berbagai aktifitas belajar, yang tidak hanya mendengarkan, tetapi mereka harus terlibat secara aktif mencari, menemukan, mendiskusikan, merumuskan, dan melaporkan hasil belajarnya.

Karenanya, mereka harus diberi kesempatan untuk memikirkan segala sesuatu yang terjadi dalam lingkungannya; guru hendaknya menstimulasi daya pikir mereka dengan mengajukan sejumlah pertanyaan dan permasalahan yang harus dipecahkan (problem solving). Melalui penciptaan kondisi yang menantang dan pemberian kebebasan yang luas kepada siswa untuk beraktifitas, memungkinkan siswa menganalisis permasalah secara kritis, dan mencari pemecahannya.

Sebab kreatifitas akan muncul dalam suasana dan lingkungan yang menantang namun dirasa aman, dan tidak takut akan mendapat hukuman apabila terjadi kesalahan. Proses belajar yang dialami siswa juga harus melatih dan meningkatkan kematangan emosional dan sosialnya. Pada akhirnya seluruh proses belajar yang dilakukan siswa akan membawanya pada peningkatan produktivitas menjadi lebih tinggi.

 

III. PENUTUP

Pendekatan konstruktivis akan membuat siswa mudah memahami suatu konsep apabila dalam proses belajar menekankan pada murid agar dapat mengkonstruksi pengetahuan melalui interaksi sosial dengan orang lain. Dengan cara belajar seperti itu dapat dikatakan proses belajar bermakna, karena tidak saja terkait dengan ketercapaian materi belajar, namun siswa juga belajar hidup sosial ketika melakukan diskusi kelompok. Guru menggunakan desain pembelajaran yang terkait dengan kompetensi dasar yaitu menganalisis hubungan antara perkembangan paham-paham baru dan transformasi sosial dengan kesadaran dan pergerakan kebangsaan.

Pendekatan ini memiliki peran dalam proses pembelajaran yang sifatnya melakukan pemecahan terhadap suatu masalah dan akan mampu menciptakan suasana belajar yang di rasa sangat kondusif apabila menggunkan pendekatan kontruktivisme sosial, dalam hal ini guru juga harus mengetahui strategi menyusun kelompok kerja kecil, karena pada dasarnya pembelajaran akan lebih bermakna apabila dilakukan dengan proses belajar kolaboratif, jadi siswa yang belum jelas akan suatu permasalahan maka ia akan bertanya dengan teman satu kelompoknya yang dirasa sudah memahami suatu konsep, dan demikian juga gurunya yang selalu siap menjadi fasilisator bagi siswa yang mengalami permasalahan dalam proses pembelajaran yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut.

Dalam kaitannya dengan mengajar maka guru dapat mengembangkan model program kontruktivis social dalam mengajarnya sebagai upaya mempengaruhi perubahan yang baik dalam perilaku siswa. Serta pengembangan model tersebut untuk membantu guru meningkatkan kemampuannya agar lebih mengenal siswa dan menciptakan lingkungan yang lebih bervariasi bagi kepentingan belajar siswa. . Pendekatan kostruktivisme mengharuskan siswa bersikap aktif.

  Dalam proses ini siswa mengembangkan gagasan atau konsep baru berdasarkan analisis dan pemikiran ulang terhadap pengetahuan yang diperoleh pada masa lalu dan masa kini. Pelajaran disusun berorientasi lebih kepada kebutuhan dan kondisi siswa dengan memicu rasa ingin tahu dan keterampilan memecahkan masalah melalui inquiry learning, reflective learning, dan problem based learning sehingga belajar merupakan proses aktif untuk mengkonstruksi pengetahuan dan bukan proses menerima pengetahuan”.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdul Racman Shalel, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa, visi, Misi, dan Aksi, cet. Pertama , Jakarta : PT. Grafindo Persada, 2004

Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung : AL-Ma’arif, 1989, hlm, 45-46

Bukhari Alma, dkk, Guru Profesional, Menguasai Metode Terampil Mengajar, Bandung : Alfabeta, 2008

 

Siti Halimah, Strategi Pembelajaran , Medan : Cita Pustaka Media Perintis, 2008

Syaiful Sagala, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan, Bandung : Alfabeta , 2009

Warul Walidin , Konstelasi Pemikiran Pedagogok Ibnu  Khaldun Perspektif Pendidikan Modern, Yogyakarta : Nadiya Foundation, 2003

Fachruddin, Pendidikan Psikologi Islam, Bandung : Citapustaka Media, 2007.

M. Gorky Sembiring, Mengungkap Rahasia dan Tips Manjur Menjadi Guru Sejati, Yogyakarta : Best Publishes, 2008

Muhaimin, Konsep Pendidikan Islam, Telaah Komponen Dasar Kurikulum, Solo : Romadhoni, 1991

W. Winkel, Psikologi Pengajaran , Jakarta : Grasindo, 1989

Winarno Suraihmad, Interaksi Belajar Mengajar, Bandung : Jamars, 1980

W.S Winkel, Psikologi Pengajaran , Yogyakarta :Media Abadi, 2004.

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta : Kencana, 2009,

 

 

MAKALAH PENDAMPING

Diajukan Untuk Melengkapi Tema Konferensi Internasional API

Dalam menyongsong Hari Pendidikan Nasional

Oleh :

ZAHRIYAH SIMARGOLANG

 

DI PERSENTASEKAN PADA

SEMINAR INTERNASIONAL SENAM OTAK DI UNIMED MEDAN

GUNA MENSUKSESKAN PROGRAM KERJA 100 HARI

KABINET INDONESIA BERSATU JILID II 2010



[1]   Siti Halimah, Stategi Pembelajaran , (Medan : Cita Pustaka Media Perintis, 2008), hlm 1

[2] Fachruddin, Pendidikan Psikologi Islam ( Bandung : Citapustaka Media, 2007), hlm 182

[3] Warul Walidin, Konstelasi Pemikiran Pedagogok Ibnu  Khaldun Perspektif Pendidikan Modern, ( Yogyakarta : Nadiya Foundation, 2003), hlm 240

[4] M. Gorky Sembiring, Mengungkap Rahasia dan Tips Manjur Menjadi Guru Sejati, ( Yogyakarta : Best Publishes, 2008), hlm 46.

[5] Muhaimin, Konsep Pendidikan Islam, Telaah Komponen Dasar Kurikulum, (Solo : Romadhoni, 1991), hlm.20.

[6] Bukhari Alma, dkk, Guru Profesional, Menguasai Metode Terampil Mengajar, Bandung : Alfabeta, 2008, hlm 82

[7] Syaiful Sagala, ( Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan, ( Bandung : Alfabeta , 2009),  hlm 173

[8] W. Winkel, Psikologi Pengajaran (Jakarta : Grasindo, 1989), hlm 82.

[9] Winarno Suraihmad, Interaksi Belajar Mengajar, (Bandung : Jamars, 1980), hlm.25

[10] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta : Kencana, 2009, hlm 241.

 


3 Komentar
image

Wed, 7 Apr 2010 @22:01

Nazar

Semoga bermanfaat, dan Penulis lebih produktif

image

Sun, 6 Jun 2010 @15:22

Sriayu

Hmm....Nice article. Lebih bagus lg jk penulisnya buta weblog sendiri. Ayyooo...Ria... kamu pasti bisa

image

Sat, 16 Oct 2010 @15:29

yuuu

rangcangan yang cocok buat kontruktivisme apa ya??


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 8+8+7

Copyright © 2012 Nazaruddin Margolang, S.Ip.M.Si · All Rights Reserved