Community Development http://pakmargolang.com Pengembangan Masyarakat melalui kegiatan Pendidikan, Pelatihan dan Penyuluhan Wed, 8 Sep 2010 04:49:08 +0700 CMS KOMA v1.00 id http://pakmargolang.com http://pakmargolang.com/images/logo.gif Community Development KAKEK & NENEK LAKSANAKAN PESANTREN KILAT UNTUK CUCU-CUCUNYA http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=45138 http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=45138 Sun, 29 Aug 2010 21:26:36 +0700 Community Development Pengembangan Masyarakat http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=45138

Bulan Puasa, Bulan Ramadhan, Bulan yang ada libur panjangnya,  Bulan yang ada Ngabu Buritnya, Bul;an yang ada Buka Barengnya, Bulan yang diujungnya ada Hari Raya, ada Pulang Kampung, ada Pulang Mudik, ada salam-salaman dan ada Takbiran Keliling Kampung.

Dari segi agama Islam Ramadhan adalah bulan suci, bulan penuh ampunan dan bulan penuh berkah, bulan yang juga sangat dinanti para muslim dimana pun berada karena dalam bulan ini juga segala amalan berlipat ganda . Selain itu masih ada lagi, yaitu malam lailatul qadar apabila menjadi hamba Allah yang paling terbaik.

Pada Bulan Ramadahn Umat Islam diwajibkan berpuasa sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam QS. Albaqarah ayat 183 : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Puasa … semua juga sudah tahu bahwa Puasa adalah menahan diri segala makan dan minum, puasa juga menahan segala amarah dan kesabaran. Sangat banyak manfaat yang dirasakan pada saat berpuasa karena selain dapat merasakan apa yang dialami oleh orang yang tidak mampu pada saat mereka tidak dapat makan dan minum juga dapat menyehatkan tubuh.

Banyak para muslim yang tidak meninggalkan aktivitas pada bulan ini. Salah satunya dengan mengadakan aktivitas pesantren kilat yang bukan hanya dilakukan oleh sekolah -sekolah tapi juga oleh organisasi-organisasi masyarakat lainnya .

Pesantren kilat adalah melakukan aktivitas pesantren yang berkisar 3 sampai 7 hari agar dapat membuat para santrinya merasakan aktivitas yang mengandung amalan -amalan ibadah selama kegiatan berlangsung . Kegiatan ini b iasanya di ikutti oleh anak sekolah dalam rangka mengisi liburan .

Lalu ada sepasang Kakek dan Nenek, memanfaatkan momen Ramadhan dengan melaksanakan Pesantren Kilat khusus untuk cucunya yang sangat dicintainya.

Tujuan Kakek dan Nenek dari Medan ini adalah menginginkan seluruh cucunya dapat menimba ilmu pengetahuan dan mengerjakan amal ibadah selama berada di dekatnya sembari mengekspresikan rasa kasih saying dan meningkatkan tali persaudaraan diantara cucunya. Kakek dan nenek tersebut adalah H. Pandapotan Nasution, SH ,   Pensiunan PNS Walikota dan anggota DPR RI , dan   Hj. Chadidjah Dalimunthe, SH, M.Hum , Pensiunan Dosen Fakultas Hukum USU, Fakultas Pasca sarjana USU dan dosen Magister kenotariatan USU.

Sudah barang tentu cucu-cucu yang mengikuti kegiatan Pondok Pesantren ini sangat bervariasi umur dan tigkat pendidikannya, ya… mulai dari tingkat SD sampai SMA   yang jumlahnya sebanyak 12 orang , Cucu-cucu  tercinta tersebut datang dari berbagai daerah di Sumatera Utara yaitu dari Binjai, Medan dan Padang Sidempuan .

            Pesaantren kilat ini dilaksanakan     di Vila lokasi Green H ill Sibolangit Sumatera Utara selama 3 hari yaitu dari Tangal     15 Agustus sampai 17 Agustus 2010.      

Untuk membimbing kegiatan   Pesantren kilat tersebut, pasang an kakek dan nenek tersebut mengundang   ustad z dan ustadzah secara khusus dan dilaksanakan di tempat yang khusus pula. Ustadz yang membimbing para cucunya Kakek dan Nenek tersebut adalah : 1. Azhar Margolang , S.Ag dan 2. Zahriyah Simargolang S.E.I, S.Pd.I , Kedua nya pernah merasakan hidup di pesantren ( Azhar Margolang 6 tahun sekolah dipesantren dan Zahriyah Simargolang 1 tahun mengajar di pesantren ) .

Kegiatan Pesantren Kilat ini dilakukan dengan menerapkan pola hidup pesantren , yang sudah barang tentu disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan cucu -cucu Kakek Nenek tersebut .

Agar kegiatan tidak terlalu kaku dan membosankan materi dikombinasikan  dengan pengetahuan umum yang menyangkut kecerdasan majemuk .   Kombinasi materi ini membuat   para cucu Kakek dan Nenek tersebut senang dan bersemangat karena mereka juga dilatih untuk mengembangkan potensi yang mereka punya. Strategi pembelajaran juga divariasikan baik metoda dan manajemen kelasnya, ada di dalam vila dan   ada pula diluar vila. Media pembelajaran yang digunakan juga bervariasi dan relatip lengkap seperti layaknya di dalam Kelas Pembelajaran . Untuk meningkatkan dinamika Kelas dilakukan pula pemilihan ketua baik untuk pria maupun wanita

Selama pelaksanaan Pesantren kilat, 3 hari cucu-cucu Kakek dan Nenek ini dapat disiplin melaksanakan shalat 5 waktu dengan berjamaah, makan dan minum bersama sehingga terlihat keakraban.

Di akhir kegiatan Pesantren Kilat dilakukan penilaian dan Kakek dan Nenek tersebut memberikan hadiah kepada para cucu yang   memiliki prestasi selama kegiatan berlangsung, Penilaian dilakukan menyangkut keahlian dalam kepemimpinan, ber dakwah, keteladanan, kerajinan, kesabaran dan kepatuhan.

Penilaian dilakukan objektif sehingga tidak semua cucu yang mendapat hadiah , namun karena penilaian dilakukan dengan serius dan benar maka semua cucu menerima hasil penilaian dengan kesadaran dan keikhlasan, meskipun tidak mendapat hadiah.

Demikianlah sekilas infoormasi kegiatan pesantren kilat yang dilakukan Kakek dan Nenek sebagai salah satu upaya memanfaatkan momen Ramadhan sebagai bulan berlatih bagi cucunya . Semoga apa yang dilakukan mendapat ridho dan berkah dari Allah SWT, dan sesuai janji Allah bagi hambanya yang dapatmelaksanakan amalan di Bulan Ramadhan dengan baik akan mendapatkan hadiah Taqwa dari Allah.

Selamat untuk Kakek dan Nenek yang telah berbuat sesuatu yang sangat berharga untuk cucunya, Semoga Allah membalas apa yang telah dilakukan tersebut. Untuk cucu-cucu bersyukurlah memiliki Kakek dan Nenek yang mencintai dan peduli dengan kamu, jarang kita jumpai Kakek dan Nenek yang memiliki saying yang demikian, semogalah kamu semua menjadi cucu-cucunya yang bertaqwa kepada Allah dan menjadi insan berguna dan pemimpin bangsa ini yang bijaksana.

 

]]>
http://pakmargolang.com/rss-comments/
Keterampilan Dasar Seorang Pendamping http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=43012 http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=43012 Thu, 5 Aug 2010 22:40:36 +0700 Community Development Pengembangan Masyarakat http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=43012

Sumber : http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/1968248-keterampilan-dasar-seorang-pendamping/

 

Beberapa keterampilan yang perlu dimiliki semua orang yang berperan sebagai pendamping masyarakat, walaupun dari spesialisasi yang berbeda. Hal-hal di bawah ini tidak hanya berlaku untuk pendampingan teknis, antara lain:

  1. Seorang pendamping harus menguasai aturan main , tugas pendamping, dan filosofi proyek yang dibantu. Dia mampu dan siap menerangkan hal tersebut kepada masyarakat dan stakeholder lain. Pendamping harus mampu membimbing masyarakat dan memberi nasihat, karena inilah merupakan tugas harian pokok.
  2. Mampu membimbing berarti mampu memberi umpan balik yang mudah diterima, tanpa menyinggung perasaan. Kadang-kadang dia juga harus melatih masyarakat, sesuai dengan metode melatih orang dewasa.
  3. Berkaitan dengan pelatihan dan pemberian penjelasan kepada masyarakat dan stakeholder, pendamping harus mampu membuat presentasi yang menarik dan akurat , serta menyiapkan demonstrasi atau membuat contoh.
  4. Dalam pelaksanaan tugas, seorang pendamping sering memimpin rapat. Hal ini akan terjadi, walaupun diharapkan rapat dipimpin oleh wakil masyarakat, karena pendamping harus memberi contoh bagaimana memimpin rapat secara efektif .
  5. Suatu tugas yang sangat penting adalah mengidentifikasi dan mengantisipasi masalah , karena keterampilan ini rata-rata belum dimiliki masyarakat. Dengan latar belakang yang berbeda, dan dengan dimiliki ilmu dalam bidang tertentu, seorang pendamping mungkin dengan mudah dapat mengidentifikasi masalah yang belum diketahui oleh masyarakat. Dan dia dapat mengantisipasi masalah yang mungkin akan muncul, sehingga masyarakat siap mengatasi masalah tersebut. Untuk mengidentifikasi masalah, pendamping juga harus cukup peka membaca situasi.
  6. Pendamping akan membantu masyarakat mecahkan masalah yang dihadapi. Penyelesaian masalah dan pencarian solusi yang kreatif akan lebih mudah apabila pendamping mampu melakukan “Berpikir ke Samping,” yaitu berpikir di luar jalur logika untuk mencari solusi yang betul-betul baru. Teknik BKS dapat dipelajari oleh pendamping, bahkan dapat dialihkan kepada masyarakat agar semua lebih berani mencari solusi yang “aneh.” Tetapi pendamping juga cukup menguasai teknik memecahkan masalah secara logis dan sistematis , seperti dengan menggunakan teknik SWOT.
  7. Tugas pendamping akan lebih mudah apabila dapat melakukan analisis secara matematik, walaupun sederhana. Semua pendamping dapat menggunakan metode statistik untuk melakukan analisis sederhana , atau untuk mencari masalah atau kelemahan atau suatu kecenderungan.
  8. Pendamping bukan manajer, akan tetapi sering melakukan tugas manajemen. Dari pandangan masyarakat, pendamping sama dengan manajer. Apalagi harus menyiapkan masyarakat untuk melakukan hal-hal manajerial. Pendamping menampilkan pengertian dasar manajemen. Satu aspek manajemen yang akan timbul adalah “team building,” karena pekerjaan di masyarakat seringkali adalah pekerjaan tim – tim pelaksanaan, tim monitoring, tim penyusun proposal, tim pemeliharaan, dan tim-tim kerja. Bagaimana cara membuat tim yang kompak dan efektif ? Hal ini harus disampaikan kepada masyarakat dengan memberi umpan balik positif dan negatif secara periodik.
  9. Bagian dari pekerjaan seorang pendamping adalah penulisan laporan . Laporan tidak hanya merupakan beban – pendamping yang melihat laporan sebagai beban akan ditiru oleh masyarakat. Padahal laporan yang dibuat dengan baik membawa banyak manfaat bagi penulis laporan. Penulisan laporan memaksakan diri memikirkan permasalahan dan rekomendasi. Laporan yang baik juga lebih diperhatikan oleh pembaca, dan mengakibatkan bantuan ditambah. Pembuatan laporan akurat juga membantu masyarakat mengendalikan proses kegiatan. Kadang-kadang pembuatan laporan dapat dilakukan dengan menggunakan komputer. Kalau pendamping menguasai beberapa program (word processing dan spreadsheet paling sedikit), laporan dapat ditulis dengan lebih cepat dan menarik. Keterampilan komputer juga dapat dimanfaatkan dalam perencanaan dan pemantauan.
  10. Keterampilan dalam penggunaan alat foto juga merupakan keterampilan yang bisa membantu seorang pendamping dalam pelaksanaan tugasnya. Foto bisa menggambarkan keadaan dengan jauh lebih mudah, asal foto tersebut diambil sesuai dengan prinsip pengambilan foto, termasuk hal fokus, komposisi, pengaturan cahaya, dan seleksi obyek yang difoto.
  11. Satu keterampilan lain yang akan bermanfaat untuk semua pendamping adalah keterampilan untuk membuat pembukuan yang sederhana . Banyak kegiatan didukung biaya, dan biaya tersebut selalu harus bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat maupun kepada pemberi dana. Pendamping tidak harus menjadi akuntan, tetapi harus mengerti catatan penerimaan dan pengeluaran, perhitungan saldo, dan bagaimana bukti yang sah.
  12. Untuk orang teknis, pembuatan dan pembacaan peta barangkali hal yang biasa, tetapi keterampilan ini sebaiknya dimiliki semua pendamping. Penggunaan peta mempunyai manfaat banyak sekali, dan pembuatan peta dapat dipelajari pula oleh orang buta huruf. Dengan adanya peta, banyak pola akan lebih mudah dilihat, dan lebih banyak pertanyaan akan muncul.
  13. Pengaturan waktu adalah keterampilan yang perlu dimiliki semua pendamping. Waktu adalah komoditas yang cukup mahal di lapangan. Pendamping harus berada di banyak tempat, sehingga sayang sekali bila tidak bisa mengatur waktu untuk memaksimalkan kesempatan untuk ketemu dengan masyarakat dan timnya.
  14. Keterampilan terakhir yang harus dimiliki semua pendamping adalah kemampuan menerapkan pembangunan berwawasan lingkungan . Pendamping harus memberi contoh yang baik, bagaimana masyarakat harus berpikir terhadap lingkungan di sekitarnya, serta mengatasi masalah dampak lingkungan yang timbul. Masyarakat akan meniru pendamping – peduli atau tidak.

 

]]>
http://pakmargolang.com/rss-comments/
Guru Jitu Selalu Dirindu http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=39480 http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=39480 Sun, 27 Jun 2010 11:46:39 +0700 Community Development Pengembangan Masyarakat http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=39480 Oleh : Zahriyah Margolang, S.E.I, S.Pd.I

Pendidikan turut berperan penting dalam menciptakan kualitas Sumber Daya Manusia yang diharapkan akan mampu memajukan bangsa Indonesia. Namun masih terdapat beberapa pendidik yang tidak mengetahui kemajuan riset yang penting sehingga disesatkan oleh spekulasi yang muncul pada 1970-an dan 1980-an. Belahan otak kiri dan otak kanan tidak belajar atau berperilaku secara sendiri-sendiri dan perbedaannya bukan bersifat dikotomi.

Jadi meskipun benar kita mengkritik isi kurikulum karena penekannya pada aspek analitis semata atau karena kurikulum itu mengabaikan ketrampilan khusus dalam individu yang berbeda, namun akan keliru jika kita mengaitkan kritik ini dengan perbedaan belahan otak. Karena fungsi otak normal adalah saling terkait secara keseluruhan, adalah mustahil untuk menciptakan pengalaman pendidikan yang dikhususkan pada satu belahan otak saja. Levy mengatakan karena dua belahan otak tidak berfungsi secara sendiri-sendiri, maka mustahil untuk mendidik satu belahan otak saja pada otak yang normal. Otak kanan akan mendapat pendidikan yang sama dengan otak kiri dalam satu pelajaran, begitu juga otak kiri akan mendapat pendidikan yang sama dengan otak kanan dalam satu pelajaran sehingga menjadi seimbang. Dan terciptalah pendidik dan peserta didik yang jitu.

Maka kami selaku jurusan Pendidikan Agama Islam yang memiliki potensi dalam profesi keguruan mempunyai inisiatif untuk membuat  seminar Nasional agar membuka wawasan dan cakrawala tentang penerapan mengajar untuk meningkatkan kualitas dan mutu khususnya para pendidik yang berpotensi menjadi ahli staf pengajar.

Adapun kegiatan ini untuk seluruh mahasiswa, guru, dosen dan para undangan yang sengaja kami undang dari sekolah maupun universitas lainnya.

Tema yang kami ambil dalam seminar pendidikan kali ini adalah : Guru Jitu Selalu Dirindu “ Perpaduan otak kiri dan otak kanan”

Seminar nasional ini sangat berguna  bagi seluruh mahasiswa dan guru maupun dosen dan umum dalam mencapai kecerdasan otak yang mampu menyeimbangkan peran otak kiri dan otak kanan.

Seminar ini akan dilaksanakan pada Hari / Tanggal : Minggu, 11 Juli 2010, bert empat : Aula Martabe Kantor Gubernur Sumatera Utara, mulai pukul : 08.30- 13.00 WIB, dengan  Pembicara  1. Dra. Sri Mulyani Nasution M.Psi ( Psikolog), 2. Basti Sulistyanto, M.Pd ( Ketua Lembaga Pengembangan Sumber daya Pendidikan Jakarta ), 3. Syahrul Komara S.Tp ( Direktur ABCo Training Center Sumut ).

Seminar ini terlaksana atas kerja sama antara Jurusan PAI  STAIS Medan dengan ABCo Training Center. Ketua Panitia Pelaksana pada seminar ini adalah Zahriyah Simargolang, S.EI, S.Pd.I.

Info selengkapnya Klik disini

 

 

]]>
http://pakmargolang.com/rss-comments/
DINAMIKA KELOMPOK http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=32167 http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=32167 Sun, 25 Apr 2010 08:23:00 +0700 Community Development Pengembangan Masyarakat http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=32167 Mengapa Perlu Dinamika Kelompok ?
Dinamika Kelompok, merupakan salah satu kemampuan/keterampilan personal dan Team yang sangat dibutuhkan dalam pengorganisasian komunitas pertanian, Hal tersebut dalam upaya menciptakan Kelompok Tani sebagai Kelompok pembelajaran (learning organization) yang  kompak dan produktif.
Hal ini urgen disiasati guna menepis anggapan umum bahwa usaha peternakan/ pertanian secara umum identik dengan peternak/petani dan peternak/petani itu selalu dekat dengan kemiskinan.
Dilain pihak kebijakan pembinaan peternak/petani di Indonesia dalam rangka membanguan usaha selalu diarahkan dalam kelompok (farmer group).
Nah... makanya upaya mendinamiskan kelompok ini diperlukan agar Kelompok Tani  dapat diciptakan sebagai organaisasi pembelajaraan yang kompak dan produktif,

Bagaimana Caranya ?
Upaya mencapai kondisi tersebut (Dinamika Kelompok) dapat dilakukan dengan berbagai cara, Namun disini akan dicoba memberikan satu Rumus (formula) sederhana yang mudah-mudahan bermanfaat dan mudah untuk dilaksanakan, dalam upaya mendinamiskan kelompok yaitu PIKAT  yang merupakan singkatan dari Perasaan, Interaksi, Kepemimpinan, Aturan dan Tujuan.

Bagaimana Penerapannya ?
Bila suatu kelompok/organisasi tidak dapat tumbuh dan berkembang maka minimal 5 variabel tersebutlah yang perlu diperiksa, demikian juga bila ingin membangun kekompakan kelompok maka yang harus difokuskan adalah bagaimana memaksimalkan pelaksanakan 5 variabel tersebut juga.
Jadi……. Pertanyaannya adalah : Apakah setiap anggota kelompok sudah menghargai perasaan anggota kelompok lainnya, apakah interaksi antar anggota sudah cukup, adakah kepemimpinan yang diakui, adakah aturan yang disepakati dan dilaksanakan, dan apakah tujuan organisasi telah dimiliki dan dipahami oleh anggota.
 
KOMPAK (PIKAT Formula) vs TUJUAN (TAKIP Formula) …… Apa pula itu ?
Dalam aplikasinya kita menggunakan urutan PIKAT (Perasaan, Interaksi, Kepemimpinan, Aturan dan Tujuan) dalam membangun hubungan (Kekompakan), dan menggunakan urutan TAKIP (Tujuan, Aturan, Kepemimpinan, Interaksi, dan Perasaan) dalam membangun hasil kerja (Produktifitas)
Nah  ... artinya bila ingin Kompak pertama yang harus diperhatikan adalah Perasaan, lalu perbanyaklah interaksi, bangun kepemimpinan, diskusikan aturan-aturan agar disepakati, Insya Allah tujuan yang lebih tinggi dapat dicapai.
Lalu ... bila ingin produktif pertama yang harus dipahami adalah tujuan, lalu bagaimana aturan mencapainya, bagaimana sistem komandonya (kepemimpinan), lalu kordinasinya seperti apa (interaksi), terakhir hargai perasaan, agar hasil yang dicapai menyenangkan semua pihak.
Kesimpulannya untuk Kompak perasaan Nomor satu dan tujuan terakhir, untuk Produktif  Tujuan nomor satu terakhir baru perasaan.
Kenyataanya... Dalam kehidupan sehari-hari kita sering kurang tepat menempatkannya, apakah kita berada pada situasi membangun hubungan (kompak) atau kita sedang membangun usaha/pekerjaan (produktifitas)

Adakah Contohnya ?
Contoh sederhana kehidupan rumah tangga kita sering menggunakan logika untuk mencapai tujuan, padahal yang penting dirumah adalah hargai perasaan istri/suami maka semua akan beres dan menyenangkan, karena orientasi rumah adalah kebahagiaan dengan hubungan yang baik.
Sementara ... di kantor/ditempat kerja kita  sering mendahulukan perasaan, koq... bos saya tidak menghargai saya ..ya, koq rekan kerja saya kurang sopan...ya... padahal harusnya kita mendahulukan tujuan dan bagaimana mencapainya, terakhir bila ada hal yang kurang pas dengan perasaan baru ditanyakan. Jangan pekerjaan kita menjadi terkendala karena hanya persoalan perasaan yang tidak enak.

Adakah Contoh yang lain lagi ?
Contoh lain begini : ada sekelompok pekerja bangunan sedang bekerja (ini tentunya mengejar produktifitas), seorang tukang sedang memegang papan untuk dipaku tiba-tiba martelnya terjatuh. Lalu dia minta tolong ambilkan martel tersebut kepada temannya dengan menunjuk menggunakan kaki, karena kedua tangannya sedang bergantung/memegang papan. apa jadinya bila si teman yang dimintai tolong  menggunakan perasaannya dan bukan aspek pencapaian tujuan. Martelnya tidak akan diambil karena meminta tolong tidak sopan (dengan kaki), akhirnya pekerjaan terbengkalai.
Harusnya siteman tadi mengambilkan saja martel demi tercapainya tujuan/pekerjaan, bila perasaan tidak enak (karena menunjuk dengan kaki pada saat istirahat dikemukakan saja Mas/bang... lain kali kalo nunjuk jangan pake kaki, pake mulut saja dimonyongkan....misalnya begitu.
Semoga bermanfaat

(Bila Anda ingin melaksanakan Pelatihan yang membutuhkan presentase materi Dinamika Kelompok, hubungi Nazaruddin Margolang, S.IP.,M.Si di 0811767894)

]]>
http://pakmargolang.com/rss-comments/
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI KERAKYATAN http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=31128 http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=31128 Tue, 13 Apr 2010 21:39:54 +0700 Community Development Pembangunan Wilayah & Pedesaan http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=31128 A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang :
Pemberdayaan masyarakat sebagai sebuah strategi pembangunan sekarang sudah banyak diterima, bahkan telah berkembang berbagai pemikiran dan literatur tentang hal tersebut. Meskipun dalam kenyataannya strategi ini masih belum maksimal di aplikasikan.
Disamping itu banyak pemikir dan praktisi belum memahami dan meyakini bahwa partisipatif dapat digunakan sebagai alternatif dalam memecahkan persoalan pembangunan yang dihadapi.
Dilain pihak konsep pembangunan yang selama ini diterapkan belum mampu menjawab tuntutan-tuntutan yang menyangkut keadilan dan pemerataan serta keberpihakannya kepada masyarakat, sehingga pembangunan yang digagas belum mampu mengangkat penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan. 
Upaya meningkatkan keberpihakan pembangunan kepada kepentingan masyarakat, sepertinya tidak dapat dilepaskan dari upaya pemberdayaan masyarakat agar mampu berpartisipasi dalam pembangunan dimaksud.
Berbagai kendala dalam penerapan disebabkan adanya perbedaan persepsi dalam menyikapi tentang pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
   
2. Masalah :
Bagaimanakan konsep pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan ekonomi kerakyatan.
   
3. Tujuan :
Mempelajari konsep Pembangunan dalam rangka pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan ekonomi kerakyatan.

B. KONSEP PEMBANGUNAN

Secara sederhana pembangunan selalu didefinisikan sebagai suatu proses yang dinamis menuju keadaan sosial ekonomi yang lebih baik atau yang lebih modern. Batasan tersebut jelas menggambarkan bahwa pembangunan merupakan  suatu gejala sosial yang berdimensi banyak dan haruslah didekati dari berbagai disiplin ilmu.
Salah satunya yang mendukung pemikiran tersebut adalah Tjokroamidjojo, 1990, dalam tulisan Bambang sutrisno, Akses Peran Serta Masyarakat, mengemukakan bahwa pembangunan negara-negara di Asia hanya bisa berlangsung bila persyaratan-persyaratan politis dan sosial terpenuhi.
Disamping itu Michael P. Todaro dalam Pengembangan Koperasi, Kumpulan karangan Thoby Mutis, mengemukakan pula bahwa Ilmu ekonomi hendaknya berdimensi luas tidak hanya berkaitan upaya melakukan pilihan terhadap sumberdaya yang terbatas, meminimalisasi biaya, memaksimalisasi hasil atau  manfaat, tetapi harus pula menguraikan beberapa hal yang berkaitan dengan upaya agar mayoritas masyarakat miskin di negara berkembang mendapat perbaikan taraf hidup sejalan dengan realisasi dari beraneka ragam potensi mereka sebagai manusia.
Selain itu Coralie Bryant & Louise G White dalam bukunya Manajemen Pembangunan mengemukakan pula bahwa pembangunan merupakan suatu peningkatan kapasitas untuk mempengaruhi  masa depan. Hal tersebut mempunyai beberapa implikasi tertentu yaitu pertama, memberikan perhatian terhadap kapasitas, yang diperlukan untuk mengembangkan kemampuan dan tenaga guna membuat perubahan tersebut, kedua pembangunan harus mencakup keadilan, perhatian yang berat sebelah kepada kelompok tertentu akan memecah belah masyarakat dan mengurangi kapasitasnya. Ketiga, penumbuhan kuasa dan wewenang dalam pengertian bahwa hanya jika masyarakat mempunyai kuasa dan wewenang tertentu maka mereka akan menerima manfaat pembangunan. Dan akhirnya pembangunan berarti perhatian yang bersungguh-sungguh  terhadap saling ketergantungan di dunia serta perlunya menjamin bahwa masa depan dapat ditunjang kelangsungannya.
Dari berbagai konsep tersebut terlihat bahwa pembangunan tidak dapat didekati hanya dengan perubahan ekonomi, tapi secara umum pembangunan juga harus mampu menciptakan suatu kondisi yang dapat menjamin keadaan sosial masyarakat yang berkeadilan, kapasitas masyarakat yang dapat berkembang dengan pemberian wewenang dan kekuasaan, serta lingkungan yang terjamin kesalingtergantungannya.
Bila dilihat lebih jauh perkembangan pemikiran teori pembangunan nasional berdasarkan pendekatan ekonomi dapat dibagi menjadi 3 aliran yang secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Aliran Klasik :
Merupakan suatu sistem ekonomi yang menyerahkan seluruh proses kepada mekanisme ekonomi secara alamiah, tanpa campur tangan pemerintah. Mekanisme pembentukan harga akan membawa segala hubungan  ekonomi secara otomatis ke kurva keseimbangan.
Teori ini akan baik hasilnya apabila dunia memenuhi persyaratan-persyaratan yang memungkinkan setiap individu memiliki peran yang sama dalam iklim laissez faire. Kenyataannya kaum kapitalis kedudukannya kuat dan memiliki alat produksi dan mempunyai kebebasan untuk menyusun kekuatan, sementara masyarakat umumnya memiliki kedudukan dan posisi yang lemah.

2. Aliran  Keynesian :
Perhatian teori ini terpusat pada pemecahan masalah jangka pendek yang tengah dihadap yaitu depresi dan pengangguran. Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah perlu melakukan kebijakan menyangkut kebijakan fiskal dan moneter untuk melepaskan masyarakat dari depresi ekonomi, mendorong investasi, menciptakan kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan.

3. Aliran Neo Klasik :
Aliran ini memandang bahwa laju pertumbuhan ekonomi suatu negara ditentukan oleh pertambahan dalam penawaran faktor produksi dan kemajuan teknologi.
Teori pertumbuhan ekonomi Neo Klasik umumnya di dasarkan pada fungsi produksi yang telah dikembangkan oleh Charles Cobb & Paul Douglas yang terkenal dengan istilah ”Cobb-Douglas Production function ”
Pembangunan umumnya dilihat sebagai perubahan secara terencana struktur produksi dan penciptaan lapangan pekerjaan sehingga bagian dari sektor pertanian menurun sementara bagian dari sektor pabrikasi (manufaktur) dan jasa meningkat.
Oleh karena itu, strategi pembangunan lazimnya dipusatkan pada  industrialisasi di wilayah dipusatkan  pada industrialisasi di wilayah perkotaan  yang mengalami perkembangan pesat, dan sering sekali dengan mengorbankan pembangunan pertanian di wilayah pedesaan.
Dari uraian diatas maka secara umum dapat dikatakan bahwa pembangunan selalu dilihat sebagai fenomena ekonomis yang diukur dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi. Masalah kemiskinan, pengangguran dan distribusi pendapatan merupakan hal penting kedua untuk menciptakan pertumbuhan yang diharapkan.
Definisi pembangunan seperti ini dikenal dengan istilah Teori Rostow yang dalam istilah ekonomi lebih dikenal dengan istilah trickle down effect theori, dimana hasil pembangunan atau pertumbuhan ekonomi tersebut akan menetes ke bawah dalam bentuk penciptaan lapangan pekerjaan maupun peluang-peluang ekonomis lainnya.
Kenyataan memperlihatkan konsep pembangunan tersebut tidak mampu menciptakan peluang ekonomi kepada masyarakat pada umumnya sebagaimana yang dikemukakan dalam pandangan tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa perlu ada upaya lain yang dilakukan agar pembangunan tersebut dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat.

C.PENGEMBANGAN EKONOMI KERAKYATAN
Terminologi sistem ekonomi kerakyatan setidaknya mengandung 5 ciri utama dan penting ( Bambang Sutrisno, Akses Peran serta Masyarakat) yakni Adanya mekanisme pasar, adanya persaingan yang sehat, memperhatikan pertumbuhan ekonomi, adanya nilai-nilai keadilan dan terjaminnya kepentingan sosial.

D. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Perberdayaan merupakan satu istilah yang diterjemahkan dari istilah empowerment yang merupakan sebuah konsep yang lahir sebagai bagian dari perkembangan alam pemikiran dan kebudayaan masyarakat.
Pemberdayaan memiliki dua kecendrungan yaitu kecendrungan primer dan kecenderungan skunder. Kecendrungan primer merupakan pemberdayaan yang menekankan pada proses memberikan atau mengalihkan sebagian kekuasaan, kekuatan atau kemampuan kepada masyarakat agar individu menjadi lebih berdaya, Kecenderungan skunder, merupakan pemberdayaan yang menekankan pada proses menstimulasi, mendorong atau memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan mereka.
Sementara itu dalam terminoligi manajemen, pemberdayaan berkaitan dengan wewenang (authority) dan kekuasaan (power). Pemberdayaan bertujuan menghapuskan hambatan-hambatan guna membebaskan organisasi dan orang-orang yang bekerja  di dalamnya, melepaskan mereka dari halangan-halangan yang hanya memperlamban reaksi dan merintangi aksi mereka.

Sejauh ini terlihat bahwa pemberdayaan yang dilakukan menekankan kecenderungan skunder yang menekankan kepada proses menstimulasi, mendorong dan memotivasi individu agar mempunyai kemampuan untuk menentukan apa yang menjadi pilihannya.
Sementara itu pemeberdayaan yang berkecenderungan primer masih jarang/kurang dilakukan dengan berbagai macam alasan. Untuk ini ada  10 mitos pemberdayaan masyarakat yang dikemukakan oleh Karta sasmita (1996) :

  1. Pemberdayaan masyarakat adalah suatu proses pengembangan material, rasional dan bertumpu pada pengembangan ekonomi masyarakat.
  2. Pemberdayaan masyarakat akan mudah diwujudkan melalui pendekatan pembangunan dari atas dari pada pendekatan yang mengintegrasikan aspirasi masyarakat.
  3. Pemberdayaan masyarakat lebih membutuhkan bantuan material.
  4. Pengetahuan dan Teknologi Internasional selalu lebih baik daripada pengetahuan dan teknologi masyarakat lokal.
  5. Kelembagaan lokal selalu tidak mampu mewujudkan upaya pemberdayaan masyarakat.
  6. Masyarakat, khususnya masyarakat lapisan bawah tidak tahu apa yang mereka inginkan.
  7. Kemiskinan lahir akibat kebodohan dan kemalasan anggota masyarakat.
  8. Efisiensi adalah tujuan utama pembangunan dan tujuan alokasi sumberdaya masyarakat.
  9. Sektor pertanian dan pedesaan adalah sektor inferior yang tidak perlu diperioritaskan.
  10. Ketidak seimbangan dalam akses pemilikan/penguasaan sumberdaya pembangunan merupakan syarat perlu untuk melakukan perubahan.


F.KESIMPULAN :

  1. Pembangunan Ekonomi secara umum diukur dengan pertumbuhan ekonomi dan perubahan struktur ekonomi dari agraris ke industri.
  2. 2.Dalam upaya pemberdayaan masyarakat memiliki kecenderungan primer (proses memberi dan mengalihkan sebagian kekuasaan kepada  masyarakat) dan kecenderungan sekunder (proses menstimulasi, mendorong atau memotivasi).
  3. 3.Model Pemberdayaan yang dikembangkan saat ini masih terbatas pada kecenderungan sekunder (proses menstimulasi, mendorong atau memotivasi).
  4. 4.Perlu pengembangan model Pemberdayaan yang memberikan kekuasaan kepada masyarakat untuk menentukan perkembangan ekonominya (kecenderungan primer dalam pemberdayaan)



DAFTAR PUSTAKA 

  1. Bambang Rudito dkk, Akses Peran Serta Masyarakat, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2003
  2. Coralie Bryant & Louise G. White, Manajemen Pembangunan, LP3ES, Jakarta, 1989
  3. Jhingan, ML, Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, Rajawali Pers, Jakarta, 2000.
  4. Proyek P4K, Selayang Pandang P4K, Badan Pengembangan SDM Pertanian, Departemen Pertanian, Jakarta, 2003.
  5. Sadono Sukirno, Ekonomi Pembangunan, Bina Grafika, LPFE-UI, Jakarta, 1985.
  6. Sinis Munandar, MS, Program Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan Melalui Pembangunan Sumberdaya Manusia dan Pelayanan Keuangan Mikro, Badan Pengembangan SDM, Depatemen Pertanian, Jakarta, 2002.
  7. Syamsuddin Abbas, Pengembangan Sumberdaya Manusia, Badan Diklat Pertanian, Departemen Pertanian, Jakarta, 1994
  8. Suwarsono & Alvin Y. So, Perubahan Sosial dan Pembangunan, LP3ES, Jakarta, 2000.
  9. Suwandi, Ir.H., MM, Agropolitan, Merintis Jalan Meniti Harapan, PT. Duta Karya Swasta, Jakarta, 2005.
  10. Thoby Mutis, Kumpulan Karangan, Pengembangan Koperasi, PT Gramedia, Jakarta, 1992.
]]>
http://pakmargolang.com/rss-comments/
Teknik Fasilitasi Kepemanduan Sekolah Lapangan http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=29870 http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=29870 Fri, 2 Apr 2010 07:33:42 +0700 Community Development Pengembangan Masyarakat http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=29870 SL (Sekolah Lapangan) adalah teknik pelaksanaan Diklat bagi petani yang efektif dan paling masuk akal. Hal ini karena pelaksanaan SL dilaksanakan selama satu siklus proses produksi/teknologi dan dilaksanakan setiap minggu sehari pertemuan dengan waktu pembelajaran 2 - 4 jam. Adalah hal yang mustahil bila ada pelaksanaan diklat bagi petani yang dilaksanakan sepanjang hari selama lebih dari 2 hari berturut-turut. Bila itu terjadi sudah dapat dipastikan yang mengikutinya bukanlah petani. Sebab petani sebagai pengusaha di bidang pertanian tidaklah mungkin dapat meninggalkan usahanya sampai berhari-hari.
Diklat Sekolah Lapangan merupakan rangkaian diklat mulai dari persiapan sampai pelaksanaan SL di Lapangan.
Rangkaian SL adalah sebagai berikut :

  1. Diklat Master Trainer yang mempersiapkan Diklat untuk Pemandu Lapang 1 (PL 1)
  2. Diklat PL 1 (Pemandu Lapang 1) yang mempersiapkan Diklat untuk Pemandu lapang 2 (PL 2). Diklat PL 1 ini di fasilitasi oleh Master Trainer.
  3. Diklat PL 2 (Pemandu Lapang 2) yang mempersiapkan Diklat (SL) petani, yang menyangkut calon peserta, tempat dan jadwal pelaksanaan, dan sekaligus menjadi pemandu, Diklat PL 2 ini difasilitasi oleh PL 1
  4. Pelaksanaan SL dengan dipandu oleh PL 2


Untuk kelancaran pelaksanaan SL sebaiknya kepada peserta SL diberikan bantuan Paket untuk penerapan teknologi. Selain itu dilakukan juga Diklat lainnya untuk mendukung seperti Diklat bagi Tokoh Masyarakat dan Diklat Bagi Kelompok Wanita Tani.
Akhir pelaksanaan SL dilakukan Field Day yang merupakan unjuk kebolehan petani terhadap SL yang telah dilakukan.
Menjadi fasilisator Sekolah Lapangan haruslah memiliki keterampilan dasar mengajar dan praktek yang meliputi Penguasaan Bahan dan pengayaannya secara tuntas , Penguasaan Metodologi Pembelajaran dan Manejemen Kelas, serta Penguasaan Wawasan Kediklatan yang luas.
Disamping itu saat tampil dalam memfasilitasi minimal memiliki kemampuan :

  1. Siasat membuka pelajaran,
  2. Memiliki gerakan-gerakan yang bebas, dan berkesan dekat dengan peserta,
  3. Memiliki gerakan tubuh yang dapat menarik perhatian,
  4. Suara yang tidak monoton,
  5. Memiliki teknik kebisuan yang dapat menarik perhatian,
  6. Menerapkan gaya interaksi yang bervariasi,
  7. Kemampuan dalam memusatkan perhatian peserta,
  8. Keterampilan bertanya yang dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu peserta,
  9. Keterampilan dalam siasat menutup proses pembelajaran.


Selain itu perlu diingat dalam memfasilitasi SL adalah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar orang dewasa yang secara fisik cukup berumur, dari status sudah menyandang beberapa status, dan dari segi proses belajar sudah punya sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Disarankan dalam memfasilitasi SL menggunakan daur belajar melalui pengalaman (ELC = experiental Learning Cycle), yang dalam prosesnya diawali dengan Mengalami (experiencing), lalu Mempertukarkan Pengalaman (Processing), lalu Menarik Kesimpulan (Generalizing), dan terakhir Merencanakan Penerapan (Applying).

Aplikasi ELC dalam pelaksanaan SL akan terlihat dalam penggunaan jam belajar harian dalam setiap minggunya di lapangan adalah sebagai berikut :
I.    Pengamatan Lapangan
II.   Penyusunan Laporan
III.  Presentase antar kelompok Peserta
IV.   Penyimpulan dan Penerapan
V.    Istirahat dan diselingi dengan Dinamika Kelompok
VI.   Pembahasan Topik Khusus dan Topik Tambahan
VII.  Refleksi Harian dan Diskusi Umum

semoga bermanfaat ....!

]]>
http://pakmargolang.com/rss-comments/
Bagaimana Merobah Idea yang Abstrak Menjadi Sesuatu Yang Nyata http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=29867 http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=29867 Fri, 2 Apr 2010 06:59:25 +0700 Community Development CatatanKu http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=29867 Dalam hidup ini kebergunaan seseorang adalah karena memiliki pemikiran/idea. Hal tersebut mudah dipahami karena tanpa pemikiran/ide maka kita tidak jauh berbeda dengan makhluk ciptaan Allah lainnya yang diberi nama binatang. So sudah pasti keberhargaan dan kebergunaan seseorang adalah karena kemampuannya memberikan ide demi kemaslahatan ummat manusia atau untuk memecahkan permasalahan hidup dan kehidupan ini, tak perduli itu kecil atau besar, sederhana atau rumit.
Nah....Bila suatu idea telah dicetuskan, disetting dan diupayakan untuk diaplikasikan dengan berbagai petunjuk dan pedomannya, maka keterampilan makhluk yang bernama manusia tersebut selanjutnya dituntut pula memiliki kemampuan lain dengan menggunakan pemikirannya untuk menjalankan ide tersebut sehingga terwujud.
Untuk mewujudkan suatu ide yang telah di justifikasi, membutuhkan kemampuan lain yang disebut kemampuan merealissikan ide tersebut.
Kemampuan merealisassikan ide disebut dengan kemampuan mengelola berbagai sumberdaya yang ada untuk memfasilitasi keberwujudan ide tersebut. Kata lainnya adalah bagaimana mengelola atau memanage.
Di dunia ini bila dua orang bertemu : seorang yang memiliki idea, dan seoarang yang dapat mewujudkan idea, maka sudah dipastikan hidup ini akan menjadi suatu tempat yang menyenangkan. Apa lagi ada orang ketiga yang mampu mempertahankan agar idea tersebut langgeng, lalu ada pula orang keempat yang dapat mengupayakan agar idea tersebut dapat dikenal orang  (promosi), terakhir yang kelima ada pula orang yang  mampu menilai keberhasilan idea tersebut sehingga selanjutnya si pencipta idea (orang pertama) dapat pula memodifikasi dan merubahnya menjadi idea yang lebih besar lagi....... wah.... itulah kesempurnaan yang dicita-citakan.
Dalam persoalan mewujudkan idea atau kata lainnya mengelola atau mamanage secara teoritis kita harus melakukan fungsi manajemen yang minimal ada 4 hal yaitu Perencanaan, Pengorganisasian, Penggerakan, dan Pengawasan itu menurut George Terry (POAC: Planning, Organizing, actuiting dan Controlling).
Apa sih yang direncanakan, apa sih yang organisir, apasih yang digerakkan, dan apasih yang diawasi.... jawabnya adalah merupakan sumber manajemen yang meliputi ; 1. Manusia, 2 Uang, 3. Materi, 4. Metoda, 5. Mesin, 6. Sasaran, 7. Waktu atau lebih kerennya disebut dengan 7 M (Man, Money, Material, Methode, Mechine, Market, and Minute).
Jadi dalam hal mengelola dan mewujudkan ide maka haruslah dilakukan dengan melaksanakan minimal 4 Fungsi manajemen tersebut terhadap 7 sumber manajemen tersebut diatas.
Bila seorang pelaksana/pewujud ide tidak mampu untuk melaksanakan Fungsi manajemen (POAC) tersebut untuk memanfaatkan sumber manajemen (7M) yang ada maka sulit diprediksi keberhasilan suatu kegiatan yang bersumber dari idea tadi.
Dalam melaksanakan fungsi manajemen (POAC) kuncinya yang menjadi syarat untuk berhasil adalah DISIPLIN, tanpa kedisiplinan yang baik semua kemampuan di atas tidak akan berguna. Bahkan tanpa disiplin yang baik akan mengakibatkan stress yang berkepanjangan bagi pelaksana atau bagi orang berfungsi sebagai pemimpin di kegiatan tersebut.
Apakah itu disiplin, secara sederhana disiplin itu adalah melaksanakan sesuatu tepat waktu dan sesuai caranya. Atau bahasa lainnya adalah "melaksanakan sesuatu  yang seharusnya dilakukan sama ada kita suka atau tidak suka. Statemen terakhir ini lebih paas kita resapi dalam penerapan suatu disiplin.
Oleh sebab itu darimanakah kita memulai suatu kegiatan agar dapat berhasil..... yah mulailah dari yang terakhir dijelaskan di atas yaitu D I S I P L I N ....  semoga bermanfaat...!!!

Pertemuan TPL Tanggal 2 maret 2010 di Bangkinang

]]>
http://pakmargolang.com/rss-comments/
PENDEKATAN KONSTRUKTIVIS SOSIAL, MENYENANGKAN, DAN TANPA TEKANAN DALAM PEMBELAJARAN http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=28062 http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=28062 Tue, 16 Mar 2010 14:34:22 +0700 Community Development Pembangunan Wilayah & Pedesaan http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=28062

 

I.       PENDAHULUAN

Konstruktivisme menjadi kata kunci dalam pembelajaran saat ini, karena itu kecenderungan pembelajaran saat ini lebih memfokuskan pada perlunya pembelajar berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, pembelajaran berbasis masalah untuk mengembangkan kemampuan belajar mandiri, perlunya pembelajar memiliki kemampuan untuk mengembangkan pengetahuannya sendiri, serta perlunya guru/dosen berperan menjadi fasilitator, mediator, dan manejer dalam proses pembelajaran. Menurut Von Glasersfeki (1989) gagasan pokok konstruktivisme sebenarnya dimulai oleh Glambatista Vico, seorang epistemology dari Italia. Pada tahun 1710, Vico dalam De Antiquissima Italorum Soaplentia mengungkapkan filsafatnya, “ Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan”. Dia menjelaskan bahwa mengetahui berarti mengetahui bagaimana membuat sesuatu. Bagi vico pengetahuan selalu merujuk kepada struktur konsep yang dibentuk. 

Banyak pemikir konstruktivisme lainnya yaitu Piaget, Vigotsky. Menurut penulis, selama beberapa dasawarsa terakhir ini, konstruktivisme telah banyak mempengaruhi pendidikan di banyak Negara. Sehingga prinsip-prinsip konstruktivisme yang diambil adalah bahwa pengetahuan dibangun oleh pembelajar sendiri, pengetahuan yang dibangun melalui keaktifan pembelajar sendiri untuk menalar, pembelajar aktif mengkonstruksi terus menerus agar selalu terjadi perubahan konsep menuju ke arah yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah, guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi pembelajar berjalan. Konstruktivisme merupakan salah satu aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi (bentukan) kita sendiri. Pengetahuan bukanlah suatu imitasi dari kenyataan, dan bukanlah gambaran dari dunia kenyataan yang ada.

Dengan demikian pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif dari kenyataan yang terjadi melalui serangkaian aktivitas seseorang. Seseorang (pembelajar) membentu skema, kategori, konsep, dan struktur pengetahuan yang diperlukan untuk pengetahuan (Battencourt, 1989). Pengetahuan juga merujuk pada pengalaman seseorang akan dunia tetapi bukan dunia itu sendiri. Tanpa pengalaman mengakibatkan seseorang tidak dapat membentuk pengetahuan.

II.    PEMBAHASAN

A.    Pendekatan Kontruktivis Sosial Untuk Pengajaran

 

Sistem pendidikan turut menentukan sukses tidaknya suatu negara, terutama dalam berpacu mengejar kemajuan negara-negara lain. Semua masyarakat wajib berperan aktif membangun sistem pendidikan formal. Ketahanan dan kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh 4 (empat) hal essensial. Pertama, ditentukan oleh seberapa banyak dan intens inovasi dan proses kreatif yang bisa diciptakan oleh suatu bangsa. Kedua, seberapa tinggi teknologi yang mampu diciptakan dan dimanfaatkan oleh bangsa itu. Ketiga, seberapa luas dan sistemiknya jaringan yang bisa dibangun dan digunakan. Keempat, ada tidaknya sumberdaya alam.

Dalam membahas ranah Ipteks, tidak bisa dipisahkan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan secara teknis operasional tidak bisa dipisahkan dengan salah satu unsur essensial dalam pendidikan kita yaitu guru.  Sesuai visi Pendidikan Nasional yang diatur dalam Undang-undang Nomor : 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, maka kita berharap akan terwujud suatu sistem pendidikan yang baik, cerdas dan kompetitif. Banyaknya bangsa yang tidak bisa mengajar ketertinggalan adalah keterbelakangan dalam modal, sumberdaya, dan tingkat pendidikan tidak memadai.

  Keterbatasan akses terhadap modal, sumberdaya, dan tingkat pendidikan membuat suatu bangsa rendah dalam disiplin kerja, disiplin waktu, dan ketertiban. Akibatnya suatu bangsa tidak raisonal, sulit beradaptsai dengan perubahan, kurang berambisis, mudah dieksploitasi dan jarang bisa bekerja dalam tim secara harmonis.Terminologi daya saing sering menggambarkan tingkat ketahanan suatu bangsa dalam bersaing secara kolektif.

Ketika tiba ke level individual sering diterjemahkan ke kata kompetitif. Agar bisa mengadopsi segala perubahan maka harus memenagkan persaingan yang berlandaskan kecerdasan. Tanpa kecerdasan maka kemenangan atas suatu persaingan tidak bersifat  langgeng dan mutlak. Memenangkan persaingan jika bukan berdasarkan kecerdasan adalah keberuntungan; keberuntungan bisa datang dan bisa tidak datang.  Daya tahan suatu bangsa harus ditopang oleh SDM yang kompetitif berdasarkan kecerdasan yang dibangun melalui pendidikan.

Salah satu unsur yang bisa membuat sistem pendidikan yang kuat berhasil guna adalah pendidiknya. Dalam dunia pendidikan para pemikir konstruktivis menekankan berbagai cara dalam pembentukan pengetahuan . Guru memiliki dwi fungsi tugas yaitu sebagai pengajar dan pendidik. Karena itu, dalam Standar Kompetensi Guru (Diknas, 2003) disebutkan salah satu kompetensi yang harus dimiliki dan dikuasai guru adalah dapat mengelola strategi belajar mengajar secara efektif dan efisien.[1] Secara umum yang disebut konstruktivisme menekankan kontribusi seseorang pembelajar dalam memberikan arti, serta belajar sesuatu melalui aktivitas individu dan sosial.

Pengetahuan dibentuk secara sosial, yaitu terhadap apa yang masing-masing partisipan kontribusikan dan buat secara bersama-sama. Sedangkan perkembangan pengetahuan yang dihasilkan akan berbeda-beda dalam konteks budaya yang berbeda. Pemikir kontruktivis menekankan berbagai kontruksi sosial dalam pembentukan pengetahuan (konstruktivisme sosial).

Jadi, menurut penulis konstruktivis sosial adalah Interaksi sosial, alat-alat budaya, dan aktivitasnya membentuk perkembangan dan kemampuan belajar individual. Demikian pula pendekatan konstruktivis sosial ini merupakan alat-alat budaya (termasuk di dalamnya kertas, mesin cetak, komputer dll) dan alat-alat simbolik (seperti sistem angka, peta, karya seni, bahasa, serta kode dan lambang) yang dapat memainkan peran penting dalam perkembangan kognitif. Semua proses mental tingkat tinggi, seperti berpikir dan pemecahan masalah dimediasi dengan alat-alat psikologi seperti bahasa, lambang dan simbol.

Setelah itu anak menginternalisasi hal tersebut. Alat psikologis ini dapat membantu siswa meningkatkan perkembangan mental dan berpikirnya. Sedangkan pada saat anak berinteraksi dengan orang tua atau teman yang lebih mampu, mereka saling bertukar ide dan cara berpikir tentang representasi dan konsep. Sehingga pengetahuan, ide, sikap dan sistem nilai yang dimiliki anak berkembang.

Menurut Driver dan Oldham dalam Mattehw (1994) pembelajaran berlandaskan konstruktivisme akan bercirikan sebagai berikut  oroentasi, elisitasi, rekrutisasi ide, penggunaan ide dalam banyak situasi dan review bagaimana ide berubah.

Menurut Brook & Brooks (1993), perbedaan situasi pembelajaran (dalam kelas) berdasarkan konstruktivisme dan pembelajaran tradisional adalah sebagai berikut :

Pembelajaran tradisional

Pembelajaran Konstruktivisme

Ruang lingkup pembelajaran disajikan secara terpisah, bagian per bagian, dengan penekanaan pada pencapaian ketrampilan dasar

Ruang lingkup pembelajaran disajikan secara utuh dengan penjelasan tentang keterkaian antar bagian, dengan penekanana pada konsep-konsep

Kurikulum harus diikuti sampai habis

Pertanyaan pembelajar dan konstruksi jawaban pembelajar adalah penting

Kegiatan pembelajaran hanya berdasrkan buku teks yang sudah ditentukan

Kegiatan pembelajaran berlandaskan beragam sumber informasi primer dan materi-matrei yang dapat dimanipulasi langsung oleh pembelajar

Pembelajar dilihat sebagai ember kosong tempat ditumpahkannya semua pengetahuan dari guru

Pebelajar dilihat sebagai pemikir yang mampu menghasilkan teori-teori tentang dunia dan kehidupan

Guru mengajar dan menyebarkan informasi keilmuan kepada pembelajar

Guru bersikap interaktif dalam pembelajaran, menjadi fasilitator dan mediator dari lingkungan bagi pebelajar dalam prose belajar

Guru selalu mencari jwaban yang ebnar untuk memvalidasi prose belajar pembelajar

Guru mencoba mengerti persepsi pebelajar agar dapat melihat pola piker pebelajar dan apa yang sudah diperoleh pebelajar unty pembelajaran selanjutnya

Penilaian terhadap proses belajar pembelajar merupakan bagian terpisah dari pembelajaran , dan dilakuakn hanpir selalu dalam buntuk tes/ujian

Penilaian terhadap proses belajar pembelajar merupakan bagian integral dalam pembelajaran, dilakukan melalui observasi guru terhadpa hasil kerja pebelajar, melalui pemeran karya pebelajar, dan fortofolio

Pembelajar harus selalu bekerja sendiri

Lebih banyak pebelajar belajar dalam kelompok

Kehidupan manusia berada dalam sistem yang kompleks. Dalam sistem sosial, manusia selalu berinteraksi antara satu dengan lainnya. Interaksi yang berlangsung itu mengandung pesan, pikiran, perasaan dan keinginan yang disampaikan oleh seseorang kepada yang lainnya.[2]

Pendekatan konstruktivis sosial mempunyai beberapa konsep umum seperti:

 

a.       Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.

b.      Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.

c.       Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.

d.      Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.

e.       Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah.

f.       Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai keterkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik minat pelajar.

Tujuan dari proses pembelajaran adalah mendidik dan membekali siswa dengan seperangkat pengetahuan, sikap, nilai, moral dan keterampilan untuk memahami lingkungan sosial masyarakat dapat dicapai. Hal ini juga dapat menjadikan pembelajaran Sosial lebih menarik, penuh tantangan dan semangat dalam mempelajarinya.  Oleh karena itu lebih tepat, kalau anak didik dipandang sebagai subyek dalam proses belajar.[3]   Model pembelajaran yang dilakukan dapat mencoba menggabungkan antara strategi mengajar bentuk dan dinamika proses demokrasi dengan proses inkuiri akademik.

  Proses pembelajaran yang berupa pengetahuan sosial berorientasi terhadap pemecahan masalah. Jadi, siswa dapat berdiskusi dalam mencari makna agar dapat mengkonstruksi pengetahuan melalui interaksi sosial dengan orang lain.

Sehingga timbul harapan adanya pengembangan potensi siswa secara optimal untuk belajar mandiri serta belajar bersama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam wawasan ini guru secara fleksibel menempatkan diri agar siswa menjadi semangat dalam pembelajaran. Pada saat-saat tertentu guru membiarkan anak mengeksplorasi dan bereksperimen sendiri dengan lingkungannya. Maka proses yang terjadi akan beragam sesuai dengan konteks kulturalnya.

Pendekatan konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan pendekatan asing bagi persepektif pendidikan di Indonesia. Ki Hajar Dewantoro, seorang tokoh pendidikan nasional, sudah lama memperkenalkan pendekatan pendidikan yang diungkapkan melalui tiga prinsip utama peran pendidik, yaitu; ‘ing ngarso sung tulodo’ (bila berada di depan anak didik, beri contoh tauladan), ‘ing madyo mbangun karso’(bila berada di tengah-tengah siswa, bangunkan keinginan anak untuk belajar), dan tut wuri handayani (bila dibelakang anak didik, beri dorongan semangat). Tujuan dapat membatasi ruang gerak usaha, agar kegiatan dapat terfokus dalam memberikan  penilaian atau evaluasi pada usaha-usaha pendidikan.

Dalam hal ini melalui pendekatan juga merupakan usaha yang penting.Pendekatan kontruktivis sosial untuk pengajaran menekankan pada konteks sosial dari pembelajaran dan bahwa pengetahuan itu dibangun dan dikontribusi secara bersama (mutual).Keterlibatan dengan orang lain membuka kesempatan bagi murid untuk mengevaluasi dan memperbaiki pemahamaan mereka saat mereka bertemu dengan pemikiran orang lain dan saat mereka berpartisipasi dalam pencarian pemahaman bersama. Dengan cara ini, pengalaman dalam konteks sosial memberikan mekanisme penting untuk perkembangan pemikiran murid. Ada pergeseran konseptual dari individual ke kolaborasi, interaksi sosial dan aktivitas sosiokultural. Murid mengkonstruksi pengetahuan melalui interaksi sosial dengan orang lain.   Isi dari pengetahuan ini dipengaruhi oleh kultur di mana murid tinggal, yang mencakup bahasa, keyakinan, dan keahlian /ketrampilan. Dalam salah satu analisis terhadap pendekatan konstruktivis sosial, guru dikatakan tertarik untuk melihat pembelajaran melalui tatapan mata murid.

Analisis yang sama juga mencatat beberapa karakteristik kelas kontruktivis social memiliki orientasi tujuan yang memiliki kontruksi makna kolaboratif. Guru memantau perspektif, pemikiran dan perasaan murid.

Interaksi social mendominasi kelas. Kurikulum dan isi fisik dari kelas mencerminkan murid dan dipengaruhi oleh kultur mereka. Startegi pengajaran yang dilakukan dalam pendekatan kontruktivis social ini adalah menekankan agar individu secara aktif menyusun dan membangun.

  Menurut pandangan konstruktivis, guru bukan sekedar memberi informasi ke pikiran anak, akan tetapi guru harus mendorong anak untuk mengekplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung dan berpikir secara kritis. Seorang guru yang menganut filosofi konstruktivis tidak akan meminta anak-anak sekedar menghafal informasi, tetapi juga memberi mereka peluang untuk membangun pengetahuan dan pemahaman materi pelajaran.

  Beberapa pendidik lama masih percaya bahwa guru harus mengarahkan dan mengontrol cara belajar anak. Mereka juga percaya bahwa konstruktivis seringkali tidak fokus pada tugas akademik dasar. Kompetensi yang ada pada guru harus diterapkan yaitu kompetensi pedagogic, kepribadian,  sosial dan personal.

Ciri-ciri pembelajaran pendekatan konstruktivis sosial

a.       Memberi peluang kepada murid membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam dunia sebenarnya.

b.      Menyokong pembelajaran secra kooperatif

c.       Menggalakkan dan menerima serta autonomi murid

d.      Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran

e.       Menggalakkan kecerdasan murid melalui kajian dan eksperimen.

Dari ciri-ciri tersebut dapat ditemukan garis besar, prinsip-prinsip pendekatan Konstruktivis sosial yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah sebagai berikut :

1.      Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri

2.      Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya

3.      dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.

4.      Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.

5.      Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi belajar lancar.

6.      Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa.

7.      Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan.

8.      Mencari dan menilai pendapat siswa.

9.      Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.

    Demi menciptakan suasana pembelajaran agar optimal dari perspektif penyampaian, guru (yang sejati) harus sejauh mungkin melibatkan sebanyak-banyaknya peserta didik secara maksimal.[4] Karena apa yang membuat mereka mengerti dan menguasai adalah ketika melibatkan mereka. Ini berarti guru juga harus kompeten bergaul secara santun dengan masyarakat di sekitarnya.

Beberapa strategi pembelajaran konstruktivis sosial adalah belajar aktif, belajar mandiri, belajar kooperatif dan kolaboratif, generative learning, dan model pembelajaran kognitif, antara lain problem based learning, dan cognitive strategis.

 

B.     Menyusun Kelompok Kerja Kecil

Dalam pengajaran kepada kelompok kerja kecil, semua langkah intruksional masih dapat diimplementasikan dengan cukup baik dan dengan fleksibilitas yang cukup tinggi diperlukan kadar bimbingan belajar, kadar ketelitian dan kadar kepastian mengenai kemajuan masing-masing dalam kelompok. Tujuan harus mencakup segala aspek perkembangan peserta didik yang menjadi tanggung jawab sekolah.[5]

Apabila kelompok yang terdiri atas dua-delapan orang dapat dikatakan kelompok kerja kecil. Kelompok kerja kecil memnugkinkan digunakannya prosedur diskusi kelompok. Dan sistem pengajaran kepada kelompok ini dapat berupa bentuk pengajaran yang sesuai. Efesiensi dan efektivitas bimbingan belajar terhadap masing-masing kelompok, akan bergantung pada kemampuan siswa yang menjadi ketua dalam mengarahkan pembicaraan, meskipun tenaga pengajar masih berkesempatan untuk berkeliling dan memberikan petunjuk. Menyusun kelompok kerja kecil biasanya dilakukan melalui strategi pembelajaran Kooperatif.

Karena pembelajaran kooperatif terjadi ketika murid bekerja sama dalam kelompok kecil (kelompok belajar) untuk saling membantu dalam belajar.

Langkah-langkah dalam cooperative learning :[6]

  1. Guru mendesain rencana pembelajaran, tujuan yang inging dicapai, ketrampilan apa yang diharapkan akan muncul.
  2. Guru harus menjelaskan desain ini kepada siswa.
  3. Guru menjelaskan sedikit tentang bahan pelajaran, tidak panjang lebar karena matrei lebih dalam akan digali oleh siswa dalam kelompoknya.

  Setelah kelompok membahasa materi dan permasalahan yang diberikan oleh guru, masing-masing kelompok diminta mempersentasikan hasil kelompoknya. Dalam diskusi kelas ini, guru bertindak sebagai moderator, agar dapat mengoreksi secara langsung jika terjadi kekeliruan pendapat. Disamping itu guru dapat menambah ateri pengayaan, dan memberi penekanan terhadap nilai, sikap, dan perilakau sosial yang harus dikembangkan dan dilatih oleh siswa.

Model-Model Cooperative Leraning merupakan variasi yang dapat dijadikan sebagai metode pembelajaran. Hal ini dijelaskan oleh salah satu tokoh Slovin.

Menurut Slovin ada beberapa metode yang dapat diterapkan yaitu :

  1. STAD = Student Team Achievement Division
  2. Jigsaw
  3. Group Investigation (GI)
  4. Rotating Trio Exchange
  5. Group Resume

Hal yang ditetapkannya dalam model yang dikembangkan itu belajar yang didasarkan pada pengalaman (experienced-based learning situation) yang diharapkan dapat mengarah pada metode-metode ilmiah dan memiliki kemungkinan pengembangan dan penerapan dalam situasi kehidupan. Model tersebut didasari pandangannya tentang citra sosial manusia. Manusia tanpa merujuk manusia lainnya. Dalam hubungannya dengan sekolah maka kelas menurut Herbert merupakan bentuk kecil masyarakat, yang memiliki keteraturan dan budaya di mana para siswa memperhatikan dan memeliharanya dalam mengembangkan pandangan hidupnya yaitu ukuran dan harapan.

Siswa mempelajari cara-cara ilmiah melalui berbagai pengetahuan dan keterampilan serta nilai-nilai yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah. Di sinilah kiranya peranan model penelitian kelompok dalam pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Penerapan dimulai dengan menghadapkan siswa kepada masalah, yang muncul dari sumber-sumber yang berbeda. Masalah itu bisa dalam bentuk verbal ataupun merupakan bagian dari suatu pengalaman. Dalam mengadakan pembagian kelompok, dapat digunakan berbagai cara yaitu pembentukan kelompok diseerahkan kepada siswa, pemebentukan kelompok diatur oleh guru sendiri, pembentukan kelompok diatur oleh guru atas usl siswa tetapi guru mengadakan perubahan terhadap usul siswa bila dipandnag perlu.

Jika siswa telah menunjukan minat terhadap reaksi-reaksi yang berbeda itu maka guru mendorong siswa untuk merumuskan masalah untuk diri mereka. Hal ini berarti bahwa siswa berkemampuan lebih tinggi secara akademik mendapat keuntungan karena memberi bantuan sebagai tutor pada topik tertentu yang memerlukan pemikiran yang lebih mendalam. Sehingga ada rasa peningkatan terhadap kemajuan prestasi siswa.

 

     Beberapa hal yang dapat diterapkan dalam menyusun kelompok kerja kecil yaitu :

a.       Sistem sosial. Model tersebut adalah demokratik. Masalah dimunculkan oleh guru atau ditentukan oleh guru sebagai objek pengajaran. Guru dan siswa mempunyai status yang sama.

b.      Prinsip-prinsip reaksinya adalah guru bertindak sebagai konselor tanpa mengganggu struktur yang ada.

c.       Sistem yang menunjang. Dukungan yang diberikan guru bersifat ekstensif dan
responsif terhadap kebutuhan siswa. Perpustakaan yang baik merupakan keperluan esensial bagi model tersebut. Disamping itu hubungan dan kontak-kontak dengan lembaga-lembaga diluar sekolah dan juga pribadi-pribadi diperlukan oleh siswa untuk memecahkan masalah yang menjadi focus pelajaran.

d.      Model yang dapat digunakan untuk semua bidang pelajaran dan juga dapat digunakan sebagai aspek di dalam merumuskan dan memecahkan masalah.

  Dengan melihat bahwa ada berbagai keuntungan dari model ini maka juga dapat diterapkan dalam pengajaran tersebut yang sering menggunakan metode pemecahan masalah.

     Maka, pengelompokan itu pada dasarnya disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:

1.      Adanya alat pelajaran yang tidak mencukupi jumlahnya. Agar pengunaan alat pengajaran dapat lebih efisien dan efektif, maka siswa perlu dijadikan kelompok-kelompok kecil. Dengan pembagian kelompok mereka dapat memanfaatkan alat-alat yang terbatas itu dengan sebaik mungkin, tanpa saling menunggu gilirannya.

2.      Kemampuan belajar siswa. Di dalam kelas kemampuan belajar siswa tidak sama. Dengan adanya perbedaan kemampuan belajar itu, maka perlu dibentuk kelompok menurut kemampuan belajar masing-masing, agar setiap siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya.

3.      Minat khusus. Setiap individu memiliki minat khusus yang perlu dikembangkan, sehingga memungkinkan dibentuknya kelompok. Agar mereka dapat dibina dan mengembangkan bersama minat khusus tersebut.

4.      Memperbesar partisipasi siswa. Mengikutsertakan setiap siswa untuk berperan aktif akan lebih efektif jika dibentuk kerja kelompok, karena setiap siswa akan ikut serta melaksanakan tugas dan memecahkan masalah yang diberikannya itu.

5.      Pembagian tugas atau pekerjaan. Di dalam kelas bila guru menghadapi suatu masalah yang meliputi berbagai persoalan, maka perlu membahas masing-masing persoalan pada kelompok harus membahas tugas yang diberikan itu.

6.      Kerja sama yang efektif. Dalam kelompok siswa harus dapat bekerjasama, mampu menyesuaikan diri, menyelaraskan pikiran /pendapat, ide, gagasan untuk kepentingan bersama, sehingga mencapai tujuan bersama pula.

  Ditinjau dari segi teorinya kelompok atau kooperatif ini sangat membantu siswa dalam mencapai tujuan belajar tetapi fakta dilapangan menunjukkan masih banyak pengajar/guru dilapangan jarang sekali menggunakan metode pembelajaran kooperatif ini, hal ini tidak dapat dipungkiri dikarenakan anggapan bahwa menggunakan metode kooperatif dipandang lebih sukar dibandingkan dengan metode konvesional (yang bisa digunakan guru dalam dalam membelajarkan siswanya seperti metode ekspositori).

  Pengelompokan siswa di dalam kelas dapat dilakukan menurut faktor kemampuan belajar siswa yang berbeda secara acak. Kemampuan belajar siswa dengan prestasi siswa yang tinggi dari rangking 1 sampai dengan 10 ditempatkan dalam satu kelompok sebagai pimpinan kelompok. Kemudian siswa yang lain dibagi secara acak sebagai anggota kelompok.

Tujuan paling penting dari kooperatif adalah memberikan pengetahuan, pemahaman, konsep dan keterampilan yang diperlukan siswa dan setiap siswa merasa senang menyumbangkan pengetahuannya kepada teman-teman kelompknya.

Strategi pembelajaran kooperatif yang diterima paling banyak dikembangkan dengan pembentukan kelompok yang beraneka ragam melalui berbagai cara.

Ada beberapa keuntungan pembelajaran kooperatif antara lain :

a.       Metode ini melibatkan semua siswa secara langsung dalam proses belajar.

b.      Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dalam berkelompok.

c.       Setiap siswa dapat kesempatan lebih terampil bertanya dan intensif   mengadakan penyelidikan masalah.

d.      Dapat memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan siswa sebagai   individu serta kebutuhannya belajar.

e.       Para siswa lebih kreatif tergabung dalam pelajaran mereka dan lebih aktif berpartisipasi dalam kelompok.

Kelompok belajar bersama ini bervariasi dalam ukurannya, meskipun biasanya terdiri dari empat orang.

Adapun tujuan dari teori ini adalah sebagai berikut :

1.      Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri.

2.      Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya.

3.      Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap.

4.      Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.

5.      Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.

Jadi, cara tersebut akan menghasilkan pemahaman tuntas dan utuh atas semua fenomena yang dipelajari.

Mengemukakan pendapat dan mengungkapkan untuk membangun makna adalah hal penting dalam komunikasi pembelajaran.[7]   Karena dapat menciptakan kondisi yang menantang dan pemberian kebebasan yang luas kepada siswa untuk beraktifitas, memungkinkan siswa menganalisis permasalah secara kritis, dan mencari pemecahannya secara kreatif. Sebab kreatifitas akan muncul dalam suasana dan lingkungan yang menantang namun dirasa aman, dan tidak takut akan mendapat hukuman apabila terjadi kesalahan. Proses belajar yang dialami siswa juga harus melatih dan meningkatkan kematangan emosional dan sosialnya. Pada akhirnya seluruh proses belajar yang dilakukan siswa akan membawanya pada peningkatan produktivitas menjadi lebih tinggi. Suasana dan pengalaman belajar harus bervariasi agar mereka mampu berpikir kritis, kreatif, mampu memecahkan masalah, memiliki kematangan emosional/sosial, dan memiliki produktivitas tinggi.

Prestasi adalah hasil yang dicapai siswa. [8] Maksudnya dalam bentuk angka berupa ulangan, ujian. Maksud ulangan tersenut untuk memperoleh suatu indeks dalam menentukan hasil belajar siswa.[9] Oleh karena itu guru harus mampu mendeteksi dini dan diagnosa potensi peserta didiknya dengan cara melakukan pendekatan pendidikan anak cerdas istimewa dalam sekolah dengan murid beragam (Inklusi ); menyiapkan skenario bagaimana mengatasi berbagai masalah yang umum terjadi pada anak-anak cerdas istimewa. 

Jadi guru membantu memahami diri siswa dan lingkungannya serta harus menerima usaha-usaha seorang anak atau seorang dewasa untuk melunasi kewajiban yang mereka rasa mungkin mereka miliki. Peserta didik memerlukan bekal ketrampilan dengan menyesuaikan diri pada kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, dan teknologi informasi.Karena tugas pendidikan juga mempertinggi kecerdasan dan kemampuan dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi, beserta manfaat dan aplikasinya, meningkatkan kualitas hidup dengan memelihara, mengembangkan, serta meningkatkan “budaya” dan lingkungan, memperluas pandangan hidup sebagai manusia yang komunikatif terhadap keluarga, masyarakat, bangsa dan sesama makhluk lain.

Upaya dalam pencapaian tujuan harus dilaksanakan dengan semaksimal mungkin. Agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar dan mencapai tujuan yang diharapkan.

Disamping keunggulan dari pembelajaran kooperatif sebagaimana disebutkan di atas, metode ini memiliki kelemahan antara lain

(1) Pembelajaran kooperatif sering hanya melibatkan kepada siswa yang mampu dan pandai

(2) Adanya perselisihan pendapat dan terjadi perpecahan dalam kelompok karena mempertahankan pendapat dalam menyelesaikan masalah.

(3) Keberhasilan pembelajaran kooperatif ini tergantung kepada kemampuan siswa memimpin kelompok atau untuk kerja sendiri.

Disamping keunggulan sistem pembelajaran cooverative learning ini juga memiliki hambatan yaitu :

1.      Untuk siswa yang dianggap memilki kelebihan akan merasa terhambat oleh siswa yang dianggap kurang memilki kemampuan. Akibatnya, keadaan semacam ini dapat mengaganggu iklim kerja sama dalam kelompok.

2.      Tanpa peer teaching yang efektif bisa terjadi cara belajar yang tidak pernah dicapai oleh siswa

3.      Penilaian yang diberikan didasarkan kepada hasil kerja kelompok, padahal guru perlu menyadari bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang diharapkan adalah prestasi setiap individu siswa.

4.      Memerlukan periode waktu yang cukup panjang, tidak mungkin dapat tercapai hanya dengan satu kali atau sekali-sekali penerapan strategi ini

5.      Bekerjasama merupakan kemampuan sangat penting, akan tetapi banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan secara individual. Selain bekerja sama siswa juga harus belajar bagaimana membangun kepercayaan diri

Untuk mengatasi problematika hambatan tersebut perlu usaha penanggulangannya. Roger dan David Johnson  (Lie, 2004) mengatakan bahwa “ Tidak semua kerja kelompok bisa dianggap Cooperative  learning”.

Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima  unsur model pembelajaran gotong royong   harus diterapkan antara lain :

(a) Saling ketergantungan positif.

(b) Tanggung jawab Perseorangan.

(c) Tatap muka.

(d) Komunikasssi antaranggota.

(e) Evaluasi Proses Kelompok.

Pembelajaran kooperatif ini dapat dilaksanakan dalam bentuk kerja kelompok campuran. Dalam kerja kelompok ini siswa diberi kesempatan untuk mengerjakan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sehingga kelompok yang pintar dapat selesai lebih dahulu tidak usah menunggu kelompok yang lain. Kelompok siswa yang agak lambat diizinkan menyelesaikan tugasnya dalam waktu yang sesuai dengan kemampuannya.

 

C.    Program Kontruktivis Sosial

Model pembelajaran pendekatan konstruktivis sosial memerlukan program yang harus diwujudkan. Hal ini terutama dalam pembahasan yang berkaitan dengan kelompok kerja kecil atau strategi pembelajaran kooperatif (SPK). Ada empat unsur penting dalam SPK, yaitu : (1) adanya peserta dalam kelompok; (2) adanya aturan kelompok; (3) adanaya upaya belajar setiap anggota kelompok; dan (4) adanya tujuan yang harus dicapai. [10] Slavin, Arbani, dan Chambers (1996) berpendapat bahwa belajar melalui kooperatif dapat dijelaskan dari beberapa perspektif, yaitu perspektif motivasi, perspektif sosial, perspektif perkembangan kognitif, perspektif elaborasi kognitif. Setiap anak unik dan memiliki karakteristik yang berbeda. Pada dasarnya mereka juga memiliki rasa ingin tahu dan daya imajinasi.

Maka program ini secara terinci menggariskan tujuan instruksional umum yang ditunjang, tujuan instruksional khusus yang harus dicapai, satuan bahasan yang dipelajari, peranan guru, alat-alat serta sumber yang dipakai, kegiatan belajar yang dilakukan siswa secara berurutan serta tugas-tugas yang harus dikerjakannya, cara diadakan evaluasi serta alatnya dan cara siswa mendapatkan umpan balik. Agar program konstruktivis sosial antara guru dan siswa dapat mencapai tujuan yang ingin memiliki kontribusi yang sama dalam pembelajaran. Maka guru harus mengetahui karakteristik strategi pembelajaran kooperatif yaitu :

a.       Pembelajaran Secara Tim

b.      Didasarkan pada Manajemen Kooperatif

c.       Kemauan untuk bekerja Sama

d.      Ketrampilan bekerja sama

Setelah menerapkan hal tersebut maka guru juga harus mengetahui prosedur pembelajaran kooperatif. Prosedur pembelajaran ini pada prinsipnya terdiri atas empat tahap, yaitu : (1) penjelasan materi; (2) belajar dalam kelompok; (3) penilaian, dan (4) pengakuan tim.

Dalam pembelajaran kooperatif, biasanya tidak banyak memakan waktu murid dalam satu hari pelajaran atau satu tahun ajaran. Dalam hal ini proses pembelajaran kooperatif adalah model membelajarkan siswa secara kooperatif atau bergotong royong untuk mencapai tujuan belajar yang semaksimal mungkin.

Dari pendekatan konstruktivis sosial tersebut apabila kita hubungkan dengan pelaksanaan yang ada dalam pendidikan. Upaya yang dilakukan melalui pendekatan konstruktivis tersebut dapat juga berupa mengembangkan wawasan spiritual yang semakin mendalam, serta mengembangkan pemahaman rasional dalam konteks kehidupan modern, membekali peserta didik dengan berbagai pengathuan dan kebajikan, baik pengetahuan praktis, kekuasaan, kesejahteraan, lingkungan sosial, dan pembangunan nasional, mengembangkan wawasan relasional dan lingkungan sebgaimana yang dicita-citakan dalam Islam, dengan melatih kebiasaan baik serta membantu peserta didik yang sedang tumbuh untuk belajar berpikir secra logis dan membimbing proses pemikirannya dengan berpijak pada hipotesis dan konsep-konsep tentang pengethaun yang dituntut.

Maka melalui upaya tersebut dapat diambil hikmah dari pendekatan konstruktivis melalui pengajaran. Karena memberikan peranan penting dalam pendidikan terutama dalam mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia secara total melalui berbagai aspek sosial baik dalam level individu, komunitas, dan manusia secara luas. Untuk terciptanya kelompok kerja yang efektif, setiap anggota kelompok perlu membagi tugas sesuai dengan tujuan kelompoknya. Tugas tersebut disesuaikan dengan kemampuan setiap anggota kelompok. Setiap kelompok harus memiliki tanggung jawab sesuai dengan tugasnya sehingga anggota harus memberikan yang terbaik untuk keberhasilan kelompoknya.

Untuk mencapai hal tersebut, guru perlu memberikan penilaian terhadap individu dan juga kelompok. Penilaian individu bisa berbeda, akan tetapi penilaian kelompok harus sama. Kelompok belajar dibentuk secara heterogen, yang berasal dari budaya, latar belakang sosial, dan kemampuan akademik yang berbeda.

  Perbedaan semacam ini akan menjadi modal utama dalam proses saling memperkaya antar anggota kelompokn. Serta ketrampilan berkomunikasi perlu terus dilatih samapi pada akhirnya setiap siswa memliki kemampuan untuk menjadi komunikator yang baik. Perangkat komponen pada masing-masing sistem pengajaran menggunakan modul yang berupa pedoman guru /petunjuk guru, lembaran kegiatan siswa, lembaran kerja, kunci lembaran kerja, lembaran tes dan kunci lembaran tes. Program pengayaan juga penting untuk memberikan kesempatan kepada siswa yang menyelesaikan lebih cepat.

Hal ini dilakukan agar kemajuan dalam belajarnya dapat berkembang terus maka memperluas materi yang berbentuk mengapilkasikan, menciptakan alat-alat, mengerjakan teka-teki dan sebagainya. Bentuk aktifitas yang dilakukan siswa bukan hanya aktifitas fisik tetapi dan terutama aktifitas mental, karena inti dari kegiatan belajar adalah adanya aktifitas mental. Tanpa keterlibatan mental dalam suatu aktifitas yang dilakukan siswa maka tidak akan pernah terjadi proses belajar di dalam dirinya. Pembelajaran ini mampu “membawa” para siswanya menguasai kemampuan yang diharapkan di akhir proses pembelajaran.

Keefektifan pembelajaran dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi guru yang melaksanakan pembelajaran, dan dari sisi siswa yang belajar. Dilihat dari sisi guru, pembelajaran dikatakan efektif apabila pembelajaran mampu menstimulasi aktifitas siswa secara optimal untuk melakukan kegiatan belajar dan seluruh atau sebagian besar aktifitas yang direncanakan dapat terlaksana.

Sementara bila dilihat dari sisi siswa, pembelajaran dikatakan efektif apabila pembelajaran tersebut dapat mendorong siswa untuk melakukan berbagai kegiatan belajar secara aktif, dan di akhir pembelajaran para siswa mampu menguasai seluruh atau sebagai besar tujuan pembelajaran yang ditetapkan, dan penguasaan pengetahuan tersebut dapat bertahan dalam waktu yang relatif lama.   Seluruh proses pembelajaran di atas, diharapkan pembelajaran yang dialami siswa menjadi menyenangkan.

Pembelajaran yang menyenangkan tidak identik dengan pembelajaran yang gaduh, berisik, dan tidak terkendali. Pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang dilakukan oleh siswa secara sukarela, tanpa ada unsur paksaan dari luar; siswa melakukan aktifitasnya dengan hati yang senang dan tidak terkekan.

Hal itu akan terjadi apabila situasi pembelajaran terbuka, demokratis, dan menantang. Para siswa memiliki kesempatan untuk melakukan berbagai aktifitas tanpa harus takut salah dan dimarahi oleh siapapun. Pembelajaran yang menyenangkan, siswa akan dapat mencurahkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya (time on task) tinggi.

Melalui usaha tersebut siswa sebagai pusat pembelajaran akan ditandai oleh adanya aktif, berpartisipasi, bekerja, berinteraksi, menemukan dan memecahkan masalah. Dalam kegiatan pengajaran komunikasi sering terjadi hanya satu arah, yaitu dari guru kepada siswa, sehingga siswa lebih banyak pasif.

  Pada saat guru menyampaikan materi pelajaran, yang biasanya dilakukan melalui ceramah, para siswa hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru. Melalui penerapan konsep pembelajaran ini maka siswa akan menjadi aktif melakukan berbagai aktifitas belajar, yang tidak hanya mendengarkan, tetapi mereka harus terlibat secara aktif mencari, menemukan, mendiskusikan, merumuskan, dan melaporkan hasil belajarnya.

Karenanya, mereka harus diberi kesempatan untuk memikirkan segala sesuatu yang terjadi dalam lingkungannya; guru hendaknya menstimulasi daya pikir mereka dengan mengajukan sejumlah pertanyaan dan permasalahan yang harus dipecahkan (problem solving). Melalui penciptaan kondisi yang menantang dan pemberian kebebasan yang luas kepada siswa untuk beraktifitas, memungkinkan siswa menganalisis permasalah secara kritis, dan mencari pemecahannya.

Sebab kreatifitas akan muncul dalam suasana dan lingkungan yang menantang namun dirasa aman, dan tidak takut akan mendapat hukuman apabila terjadi kesalahan. Proses belajar yang dialami siswa juga harus melatih dan meningkatkan kematangan emosional dan sosialnya. Pada akhirnya seluruh proses belajar yang dilakukan siswa akan membawanya pada peningkatan produktivitas menjadi lebih tinggi.

 

III. PENUTUP

Pendekatan konstruktivis akan membuat siswa mudah memahami suatu konsep apabila dalam proses belajar menekankan pada murid agar dapat mengkonstruksi pengetahuan melalui interaksi sosial dengan orang lain. Dengan cara belajar seperti itu dapat dikatakan proses belajar bermakna, karena tidak saja terkait dengan ketercapaian materi belajar, namun siswa juga belajar hidup sosial ketika melakukan diskusi kelompok. Guru menggunakan desain pembelajaran yang terkait dengan kompetensi dasar yaitu menganalisis hubungan antara perkembangan paham-paham baru dan transformasi sosial dengan kesadaran dan pergerakan kebangsaan.

Pendekatan ini memiliki peran dalam proses pembelajaran yang sifatnya melakukan pemecahan terhadap suatu masalah dan akan mampu menciptakan suasana belajar yang di rasa sangat kondusif apabila menggunkan pendekatan kontruktivisme sosial, dalam hal ini guru juga harus mengetahui strategi menyusun kelompok kerja kecil, karena pada dasarnya pembelajaran akan lebih bermakna apabila dilakukan dengan proses belajar kolaboratif, jadi siswa yang belum jelas akan suatu permasalahan maka ia akan bertanya dengan teman satu kelompoknya yang dirasa sudah memahami suatu konsep, dan demikian juga gurunya yang selalu siap menjadi fasilisator bagi siswa yang mengalami permasalahan dalam proses pembelajaran yang terkait dengan kompetensi dasar tersebut.

Dalam kaitannya dengan mengajar maka guru dapat mengembangkan model program kontruktivis social dalam mengajarnya sebagai upaya mempengaruhi perubahan yang baik dalam perilaku siswa. Serta pengembangan model tersebut untuk membantu guru meningkatkan kemampuannya agar lebih mengenal siswa dan menciptakan lingkungan yang lebih bervariasi bagi kepentingan belajar siswa. . Pendekatan kostruktivisme mengharuskan siswa bersikap aktif.

  Dalam proses ini siswa mengembangkan gagasan atau konsep baru berdasarkan analisis dan pemikiran ulang terhadap pengetahuan yang diperoleh pada masa lalu dan masa kini. Pelajaran disusun berorientasi lebih kepada kebutuhan dan kondisi siswa dengan memicu rasa ingin tahu dan keterampilan memecahkan masalah melalui inquiry learning, reflective learning, dan problem based learning sehingga belajar merupakan proses aktif untuk mengkonstruksi pengetahuan dan bukan proses menerima pengetahuan”.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdul Racman Shalel, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa, visi, Misi, dan Aksi, cet. Pertama , Jakarta : PT. Grafindo Persada, 2004

Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung : AL-Ma’arif, 1989, hlm, 45-46

Bukhari Alma, dkk, Guru Profesional, Menguasai Metode Terampil Mengajar, Bandung : Alfabeta, 2008

 

Siti Halimah, Strategi Pembelajaran , Medan : Cita Pustaka Media Perintis, 2008

Syaiful Sagala, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan, Bandung : Alfabeta , 2009

Warul Walidin , Konstelasi Pemikiran Pedagogok Ibnu  Khaldun Perspektif Pendidikan Modern, Yogyakarta : Nadiya Foundation, 2003

Fachruddin, Pendidikan Psikologi Islam, Bandung : Citapustaka Media, 2007.

M. Gorky Sembiring, Mengungkap Rahasia dan Tips Manjur Menjadi Guru Sejati, Yogyakarta : Best Publishes, 2008

Muhaimin, Konsep Pendidikan Islam, Telaah Komponen Dasar Kurikulum, Solo : Romadhoni, 1991

W. Winkel, Psikologi Pengajaran , Jakarta : Grasindo, 1989

Winarno Suraihmad, Interaksi Belajar Mengajar, Bandung : Jamars, 1980

W.S Winkel, Psikologi Pengajaran , Yogyakarta :Media Abadi, 2004.

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta : Kencana, 2009,

 

 

MAKALAH PENDAMPING

Diajukan Untuk Melengkapi Tema Konferensi Internasional API

Dalam menyongsong Hari Pendidikan Nasional

Oleh :

ZAHRIYAH SIMARGOLANG

 

DI PERSENTASEKAN PADA

SEMINAR INTERNASIONAL SENAM OTAK DI UNIMED MEDAN

GUNA MENSUKSESKAN PROGRAM KERJA 100 HARI

KABINET INDONESIA BERSATU JILID II 2010



[1]   Siti Halimah, Stategi Pembelajaran , (Medan : Cita Pustaka Media Perintis, 2008), hlm 1

[2] Fachruddin, Pendidikan Psikologi Islam ( Bandung : Citapustaka Media, 2007), hlm 182

[3] Warul Walidin, Konstelasi Pemikiran Pedagogok Ibnu  Khaldun Perspektif Pendidikan Modern, ( Yogyakarta : Nadiya Foundation, 2003), hlm 240

[4] M. Gorky Sembiring, Mengungkap Rahasia dan Tips Manjur Menjadi Guru Sejati, ( Yogyakarta : Best Publishes, 2008), hlm 46.

[5] Muhaimin, Konsep Pendidikan Islam, Telaah Komponen Dasar Kurikulum, (Solo : Romadhoni, 1991), hlm.20.

[6] Bukhari Alma, dkk, Guru Profesional, Menguasai Metode Terampil Mengajar, Bandung : Alfabeta, 2008, hlm 82

[7] Syaiful Sagala, ( Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan, ( Bandung : Alfabeta , 2009),  hlm 173

[8] W. Winkel, Psikologi Pengajaran (Jakarta : Grasindo, 1989), hlm 82.

[9] Winarno Suraihmad, Interaksi Belajar Mengajar, (Bandung : Jamars, 1980), hlm.25

[10] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta : Kencana, 2009, hlm 241.

]]>
http://pakmargolang.com/rss-comments/
Zahriyah Simargolang S.E.I, S.Pd.I http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=28061 http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=28061 Tue, 16 Mar 2010 14:25:48 +0700 Community Development Tenaga Ahli http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=28061 Namaku : Zahriyah Simargolang, Umur : 24 Tahun Saya lahir di Kisaran, 23 Januari 1986
Beragama : Islam, Alamat di Jl. Pembangunan Gg. Pisang Helvetia Timur Medan, Sumatera Utara, Indonesia

PENDIDIKAN

1991-1997 SD Negeri 015923 Sei Dadap I/II, Kabupaten Asahan
1997-2000 Mts Muhammadiyah-3 Kisaran
2000-2003 SMU Muhammadiyah – 8 Kisaran
2003-2007 Universitas Islam Negeri  SUSKA Riau Jurusan Ekonomi Islam
2008-2009 STAI. Sumatera Jurusan Pendidikan Agama Islam
2008-sekarang PPs IAIN Sumatera Utara Jurusan Pendidikan Islam
 
PENGALAMAN BEKERJA

2007  s/d 2008, Guru SD Negeri 015923 Sei Dadap I/II Kab. Asahan
2007 s/d 2009, Guru Madrasah Aliyah Muhammadiyah Ponpes Darul Arqam Kabupaten Simalungun
2009 - sekarang, Dosen STAI Sumatera Medan

Medan, 10 Februari 2010
Saya yang membuat


                           
Zahriyah Simargolang S.E.I, S.Pd.I

]]>
http://pakmargolang.com/rss-comments/
TENGKU KADDHAFI Al MUNIR, S.P, MP http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=25731 http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=25731 Mon, 22 Feb 2010 16:41:48 +0700 Community Development Tenaga Ahli http://pakmargolang.com/?pg=articles&article=25731

NAMAKU : TENGKU KADDHAFI Al  MUNIR, S.P, MP; LAHIR  DI JAKARTA PADA TANGGAL 4 FEBRUARI 1974, BERAGAMA: ISLAM

ALAMAT   : PERUM. VILLA ANGGREK MAS III BLOK J.95, PEKANBARU; PHONE : 08127548597

 

 

PENDIDIKAN

 

  1. SEKOLAH DASAR, TAHUN1986 SDN 020265 BINJAI  SUMATERA UTARA
  2. SEKOLAH MENENGAH PERTAMA,TAHUN 1989 SMPN 01 BINJAI
  3. SEKOLAH MENENGAH ATAS, TAHUN 1992 SMAN 01 BINJAI
  4. S-1 PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA BANDA ACEH, TAHUN 1998 JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
  5. PASCA SARJANA (S2) , JURUSAN MANAJEMEN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT, FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA, INSTITUT PERTANIAN BOGOR.

 

 

 

RIWAYAT TRAINING

 

  1. TRAINING SISTEM PERTANIAN ORGANIK PADA LAHAN KERING (YAYASAN SADAGORI SUKABUMI) TAHUN 2002
  2. TRAINING SISTEM PERTANIAN TERPADU 2001 (PPMR RIAU PULP)
  3. TRAINING SISTIM PERTANIAN ORGANIK TERPADU (P4S ANTANAN BOGOR) TAHUN 2002
  4. TRAINING PARADIGMA INSAN PRESTATIF (PIP.PLUS) 2002, JAKARTA
  5. TRAINING PEMETAAN SOSIAL DAN PENJAJAKAN KEBUTUHAN MASYARAKAT (BIDARA JAKARTA) TAHUN 2003
  6. TRAINING TEKNIS PERTANIAN ORGANIK (PERBANYAKAN AGENS HAYATI DAN RAMUAN NABATI) TAHUN 2004 (BPTPH SUMBAR)
  7. TOT. TENAGA PENDAMPING KEKOMPOK SWADAYA TAHUN 2005, BINASWADAYA JAKARTA
  8. TRAINING DASAR COMMUNITY DEVELOPMENT (PARTICIPATORY TRAINING, STRATEGY AND TECHNIQUE), 2005. COORPORATE FORUM FOR COMMUNITY DEVELOPMENT, BOGOR.
  9. TRAINING DINAMIKA KELOMPOK DAN ICE BREAKER (BIDARA JAKARTA), 2006
  10. TRAINING OF TRAINER SEKOLAH LAPANG PENGENDALIAN HAMA TERPADU TAHUN 2006 (BPTPH SUMBAR)
  11. TOT PEMANDU LAPANGAN UNTUK SEKOLAH LAPANG PENGENDALIAN HAMA TERPADU TAHUN 2006 (BPTPH SUMBAR).
  12. TRAINING PROBLEM SOLVING DECISION MAKING, 2006, MINOUT JAKARTA
  13. TOT. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT MENULAR (KASUS FLU BURUNG), 2007. UNICEF, JAKARTA.
  14. TRAINING ESQ (EMOSIONAL SPRITUAL QUESTION), 2008. PEKANBARU

 

PENGALAMAN TRAINER

 

  1. TRAINER PELATIHAN SISTEM PERTANIAN TERPADU PADA PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PT. RIAUPULP TAHUN 2001 S.D SEKARANG
  2. MASTER OF TRAINING PADA TRAINING PADA TRAINING PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PT. RIAUPULP SEJAK TAHUN 2003 S.D SEKARANG, BIDANG :

A.    SISTEM PERTANIAN TERPADU DASAR

B.     ADVANCE PERTANIAN

C.     ADVANCE PETERNAKAN

D.    ADVANCE PERIKANAN

E.     PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN KELEMBAGAAN

F.      LEMBAGA KEUANGAN MIKRO

G.    PEMBUKUAN SIMPAN PINJAM

H.    SEKOLAH LAPANG PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT TERPADU

I.       SEKOLAH LAPANG KESEHATAN LINGKUNGAN

J.       TENAGA PENDAMPING KELOMPOK SWADAYA

  1. TRAINER PERTANIAN ORGANIK, PT. BINASWADAYA KONSULTAN. LAMNO ACEH JAYA. PROPINSI NAD, 2007
  2. TRAINER PERTANIAN ORGANIK, BRITISH RED CROSS, PROPINSI NAD, 2007
  3. TRAINER APLIKASI EVALUASI VACTORIAL PROJECT ANALISIS (VPA), CECOM FOUNDATION DAN PT. BINASWADAYA KONSULTAN UNTUK PROGRAM LIVELIHOOD BRITISH RED CROSS, PROPINSI NAD, 2007 DAN 2008
  4. TRAINER PEMETAAN SOSIAL, KELEMBAGAAN DAN GENDER, PADA TRAINING TPKS, UNTUK PENDAMPING LAPANGAN DINAS TANAMAN PANGAN, HORTIKULTURA DAN IRIGASI, KABUPATEN KAMPAR, 2008
  5. TRAINER PENGOLAHAN KOMPOS PADAT DAN CAIR, PADA DINAS PETERNAKAN PROPINSI RIAU, 2008
  6. TRAINER KELEMBAGAAN KELOMPOK DESA TERTINGGAL (KASUS PENANGANAN 10 DESA TERTINGGAL KABUPATEN KAMPAR), 2008.
  7. TRAINER PENYUSUNAN MODUL PELATIHAN CECOM FOUNDATION TAHUN 2005 S.D SEKARANG
  8. TRAINER EVALUASI PARTISIPATIF MENGGUNAKAN METODE VACTORIAL PROJECT ANALISIS UNTUK PELATIHAN PENDAMPING DINAS PERTANIAN DAN HORTIKULTURA KABUPATEN KAMPAR, APRIL 2009

 

 

RIWAYAT KERJA

 

  1. FIELD OFFICER SISTEM PERTANIAN TERPADU  PPMR-RIAUPULP TAHUN 2002-2004
  2. FIELD COODINATOR SISTEM PERTANIAN TERPADU PPMR-RIAUPULP 2004 – 2005
  3. HEAD SISTEM PERTANIAN TERPADU CECOM FOUNDATION TAHUN 2005-2006
  4. HEAD TRAINING DEVELOPMENT CECOM FOUNDATION TAHUN 2006 S.D SEKARANG
  5. SEKRETARIS PENGURUS PADA LEMBAGA PENGEMBANGAN KOMUNITAS DAN KEWIRAUSAHAAN SOSIAL, NOVEMBER 2008 SAMPAI DENGAN SEKARANG
  6. STAFF AHLI TEKNIS PADA SEKRETARIAT OPERASI PANGAN RIAU MAKMUR DINAS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA PROPINSI RIAU TAHUN 2009 S.D SEKARANG.

7. STAFF AHLI LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS RIAU

 

KEAHLIAN KHUSUS

 

  1. PERANCANG PROGRAM PENGEMBANGAN  MASYARAKAT BERBASIS PARTISIPASI MASYARAKAT.
  2. PERANCANG SISTEM MODEL PELATIHAN ORANG DEWASA KHUSUS MATERI PERTANIAN, PERTANIAN, PERIKANAN, PERKEBUNAN  DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT.
  3. ANALISIS TINGKAT PERKEMBANGAN PROYEK PENGEMBANGAN MASYARAKAT (PENINGKATAN PENGHIDUPAN DAN PENINGKATAN POLA PIKIR) DENGAN METODE VACTORIAL PROJECT ANALISIS (VPA).
  4. ANALIS PERKEMBANGAN SOSIAL BUDAYA DAN EKONOMI MASYARAKAT

 

 

 

Demikian curiculum vitae ini saya buat dengan sebenar-benarnya,

 

Pekanbaru,   3 Februari 2010

 

 

 

 

 

T. KADDHAFI AL MUNIR, S.P

 

]]>
http://pakmargolang.com/rss-comments/